Tapaktuan, Kompas
Masyarakat di daerah itu meminta pemerintah segera melakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.
Kepala Dusun Alue Keujrun Gardinsyah (54) ketika ditemui di lokasi, Jumat (5/2), mengatakan, gajah-gajah itu turun pada sore hari ketika warga masih berada di kebun-kebun mereka. ”Akan tetapi, mereka masih bisa menyelamatkan diri,’ katanya.
Gardinsyah mengatakan, lahan perkebunan yang dirusak oleh gajah saat ini sedang ditanami beberapa jenis tanaman, seperti jagung, nilam, pepaya, dan kelapa.
Salah satu bangunan yang dirusak adalah tempat penyulingan minyak nilam yang berada di samping lahan perkebunan itu.
Lebih lanjut dia menjelaskan, lahan perkebunan itu milik Tasar (42). Setiap hari Tasar dan keluarganya pergi berkebun. Di lokasi tersebut, Tasar dan keluarganya membangun sebuah gubuk yang digunakan sebagai tempat beristirahat.
”Mereka semua sudah mengungsi ke dusun ini. Mereka belum berani kembali ke lokasi kebunnya karena masih khawatir gajah kembali merusak tanaman mereka,’ tuturnya.
Gardinsyah mengatakan, warganya semakin resah dengan keberadaan kawanan gajah di sekitar tempat tinggal mereka.
Apalagi, tuturnya, sekitar pertengahan Januari 2009, salah satu warganya, Misbah (48), secara tidak sengaja terinjak gajah. Beberapa tulang pada tubuhnya
”Dia sekarang belum tinggal
Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam
Di Aceh, pada 1996 diestimasi jumlah gajah berkisar 600-700 ekor. Sementara tahun 2007 diperkirakan populasi gajah Aceh berkisar 350-450 ekor.
Data BKSDA juga menunjukkan, angka ini cukup mengkhawatirkan karena berarti populasi gajah di Aceh dalam 10 tahun terakhir (1996-2006) berkurang hampir 40 persen.
Pada 2007-2008 (sampai September 2008), gajah liar yang ditangkap atau mati terkait dengan konflik berkisar minimal
BKSDA memperkirakan, populasi gajah sumatera pada akhir tahun 2007 berkisar 2.400 sampai 2.800 ekor.
Sebelumnya, salah seorang warga Desa Pintu Rimba, Kecamatan Trumon Timur, Jamadi Pohan, menyatakan hal yang sama. Kawanan gajah, tuturnya, sering kali turun dan menghancurkan tanaman kebun milik warga.
Jamadi mengatakan, warga berulang kali melaporkan hal ini kepada pemerintah. Namun, sampai sekarang, tuturnya, tidak ada tindakan konkret terhadap keresahan warga.
Sebelumnya dari Pekanbaru diberitakan, sekawanan gajah berjumlah 25 ekor selama sepuluh hari terakhir menyatroni kompleks perumahan perusahaan minyak PT Chevron di kawasan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Kawanan hewan bertubuh tambun itu tidak merusak perumahan, tetapi memakan tanaman yang berada di sekitar permukiman.
