Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 00:30 WIB
LINGKUNGAN
Gajah Rusak Tanaman Milik Petani di Tapaktuan
| Senin, 8 Februari 2010 | 03:57 WIB
|
Share:

Tapaktuan, Kompas - Dalam dua pekan terakhir, beberapa gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) turun dan merusak kebun para petani di Desa Alue Keujrun, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Masyarakat di daerah itu meminta pemerintah segera melakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Kepala Dusun Alue Keujrun Gardinsyah (54) ketika ditemui di lokasi, Jumat (5/2), mengatakan, gajah-gajah itu turun pada sore hari ketika warga masih berada di kebun-kebun mereka. ”Akan tetapi, mereka masih bisa menyelamatkan diri,’ katanya.

Gardinsyah mengatakan, lahan perkebunan yang dirusak oleh gajah saat ini sedang ditanami beberapa jenis tanaman, seperti jagung, nilam, pepaya, dan kelapa.

Salah satu bangunan yang dirusak adalah tempat penyulingan minyak nilam yang berada di samping lahan perkebunan itu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, lahan perkebunan itu milik Tasar (42). Setiap hari Tasar dan keluarganya pergi berkebun. Di lokasi tersebut, Tasar dan keluarganya membangun sebuah gubuk yang digunakan sebagai tempat beristirahat.

”Mereka semua sudah mengungsi ke dusun ini. Mereka belum berani kembali ke lokasi kebunnya karena masih khawatir gajah kembali merusak tanaman mereka,’ tuturnya.

Terinjak gajah

Gardinsyah mengatakan, warganya semakin resah dengan keberadaan kawanan gajah di sekitar tempat tinggal mereka.

Apalagi, tuturnya, sekitar pertengahan Januari 2009, salah satu warganya, Misbah (48), secara tidak sengaja terinjak gajah. Beberapa tulang pada tubuhnya patah.

”Dia sekarang belum tinggal di dusun ini, masih menjalani pengobatan di Manggamat,’ katanya. Dia meminta pemerintah untuk bertindak cepat. Bila tidak, warga akan mengusir dan melakukan tindakan lainnya untuk mengurangi kerugian material, salah satunya adalah dengan cara meracun gajah-gajah tersebut.

Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, konflik satwa selama 2007-2009 menunjukkan peningkatan. Tahun 2007 tercatat 33 kasus, tahun 2008 tercatat 46 kasus, dan pada 2009 sebanyak 30 kasus.

Di Aceh, pada 1996 diestimasi jumlah gajah berkisar 600-700 ekor. Sementara tahun 2007 diperkirakan populasi gajah Aceh berkisar 350-450 ekor.

Data BKSDA juga menunjukkan, angka ini cukup mengkhawatirkan karena berarti populasi gajah di Aceh dalam 10 tahun terakhir (1996-2006) berkurang hampir 40 persen.

Pada 2007-2008 (sampai September 2008), gajah liar yang ditangkap atau mati terkait dengan konflik berkisar minimal 39 ekor, yang berarti sekitar 10 persen dari seluruh populasi gajah liar yang hilang lagi dari populasi liar.

BKSDA memperkirakan, populasi gajah sumatera pada akhir tahun 2007 berkisar 2.400 sampai 2.800 ekor.

Sebelumnya, salah seorang warga Desa Pintu Rimba, Kecamatan Trumon Timur, Jamadi Pohan, menyatakan hal yang sama. Kawanan gajah, tuturnya, sering kali turun dan menghancurkan tanaman kebun milik warga.

Jamadi mengatakan, warga berulang kali melaporkan hal ini kepada pemerintah. Namun, sampai sekarang, tuturnya, tidak ada tindakan konkret terhadap keresahan warga.

Kompleks PT Chevron

Sebelumnya dari Pekanbaru diberitakan, sekawanan gajah berjumlah 25 ekor selama sepuluh hari terakhir menyatroni kompleks perumahan perusahaan minyak PT Chevron di kawasan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Kawanan hewan bertubuh tambun itu tidak merusak perumahan, tetapi memakan tanaman yang berada di sekitar permukiman. (MHD)