Selasa, 21 Oktober 2014

News / Travel

Ke Bandung Lewat Pinggiran

Jumat, 5 Februari 2010 | 10:15 WIB

Jalan tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) membuat Jakarta-Bandung seperti tak berjarak lagi. Beberapa kali saya berangkat dari Semanggi di Jakarta Selatan dan tiba di Pintu Tol Pasteur, Bandung, 2 jam kemudian. Padahal, pada saat-saat macet, jarak dari Semanggi hingga ke rumah saya di Sentul City sering kali juga harus ditempuh dalam waktu 2 jam.

Semula banyak orang beranggapan bahwa dengan hadirnya jalan tol itu, hotel-hotel di Bandung akan sepi mengingat banyak orang dapat pergi-pulang tanpa menginap. Nyatanya, setelah jalan tol itu beroperasi, semakin banyak pula hotel baru bermunculan di Bandung.

Yang jelas, banyak tempat makan di lintasan lama yang kini kehilangan para tamunya. Bahkan, banyak yang terpaksa melakukan downsizing. Rumah Makan Alam Sari, misalnya, yang dulu pernah punya empat lokasi, sekarang hanya tinggal dua. Itu pun terpaksa dengan cara membuka lokasi baru yang tampak dari jalan tol. Tidak sedikit warung kecil yang terpaksa gulung tikar karena kehilangan traffic yang semula mengarus 24 jam di lintasan itu.

Soto Sadang di pinggiran Purwakarta, contoh yang lain, tampak agak sepi sekarang. Untungnya, soto Sadang melakukan “jemput bola” dan membuka gerai-gerai kecil di beberapa SPBU di jalan tol Jakarta-Cikampek maupun Purbaleunyi. Bila kangen Soto Sadang, biasanya saya singgah di pitstop Kilometer 57 Cikampek-Jakarta. Pilihannya adalah soto dengan kuah bening atau santan, dengan isian ayam, sapi, atau babat. Soto Sadang sekarang juga menyediakan sop buntut.

Purwakarta

Minggu lalu, saya sengaja pergi ke Bandung melewati lintasan lama. Kota pertama yang saya singgahi adalah Purwakarta. Selain soto sadang, Purwakarta juga terkenal dengan sate maranggi. Terus terang, saya lebih suka sate maranggi gagrak Cianjur. Di Cianjur, sate maranggi hanya dibuat dari daging sapi.

Setelah dagingnya dirangkai menjadi sate, direndam dalam bumbu yang utamanya terdiri atas kecap manis dan ketumbar sehingga hasil akhirnya adalah tendangan rasa mirip dendeng. Sate maranggi gagrak Cianjur ini mirip sekali dengan sate sapi manis di Ungaran, seperti Pak Kempleng atau Pak Isman.

Di Purwakarta, satenya hanya direndam dalam kecap manis. Ada pilihan daging, yaitu sapi atau kambing. Karena direndam semalam, secara teknis dagingnya telah mengalami pelayuan (aged) sehingga membuatnya lebih empuk.

Sayangnya, di Purwakarta juga tidak ada tradisi makan sate maranggi dengan nasi uduk. Di Cianjur, sate maranggi umumnya dimakan dengan nasi uduk yang dimasak dengan sedikit kunyit sehingga warnanya kuning muda. Satenya juga disajikan dengan sambal oncom.

Di Desa Cihuni, pinggiran Purwakarta, ada beberapa penjual sate maranggi. Salah satu yang paling terkenal adalah Mang Use. Sebetulnya, dibandingkan dengan yang lain, Mang Use relatif belum lama berjualan. Sejak tahun 1998 ia berjualan keliling kampung dengan pikulan.

Namun, sejak tiga tahun yang lalu ia mengubah posisi. Bukan Mang Use yang berkeliling mencari pembeli, melainkan pembelinya yang harus datang ke rumah Mang Use yang bagian depannya telah disulap menjadi warung sate maranggi.

Kentara sekali bahwa warung Mang Use yang paling laris di lintasan itu. Selain sate maranggi, di warung ini juga tersedia gurame bakar cobek. Mungkin karena saya sudah telanjur setia dengan sate maranggi Cianjur, di warung Mang Use ini yang mengesankan bagi saya justru gurame cobek. Sambalnya tidak terlalu pedas, tetapi sangat gurih. Kalau saya perhatikan dengan teliti, tampaknya kegurihan sambal itu didukung oleh bawang merah yang digoreng utuh dengan kulitnya, baru kemudian digerus menjadi sambal.

Kalijati

Dari Purwakarta, perjalanan saya teruskan ke Kalijati. Kota kecil itu cukup terkenal karena di sini ada pangkalan TNI AU yang hingga kini masih aktif. Pada masa pendudukan Jepang, pangkalan itu pernah menjadi landasan strategis bagi balatentara Jepang.

Ada satu tempat makan di Kalijati Barat yang tidak boleh dilewatkan. Namanya RM Sederhana. Tempatnya di tepi jalan raya, karena itu cukup populer dan cukup mudah ditemukan.

Hidangan istimewa di rumah makan ini adalah ayam bakar. Menjelang jam makan siang, beberapa puluh ayam panggang tampak bertumpuk di sebuah lemari kaca. Sangat menggiurkan. Sepintas tampak seperti ayam goreng karena warnanya yang coklat cantik.

Akan tetapi, sebenarnya itu dihasilkan dari “teknik” memanggang yang lebih mirip seperti mengasap. Lidah api sama sekali tidak menyentuh ayam yang dibakar, tetapi bara panasnya cukup membuat ayam matang. Teknik yang sama juga dipakai dalam membakar ayam tandoori di India.

Karena yang dipakai adalah ayam kampung, hasilnya adalah ayam bakar yang garing tidak berlemak, gurih, dan renyah. Saya sengaja memakai istilah renyah karena teksturnya memang tidak empuk. Saya sungguh terkesan dengan penampilan dan citarasa ayam bakar itu.

Di rumah makan tersebut, penyajiannya juga mirip di rumah makan padang. Semua masakan sudah tersedia di meja–kecuali ayam bakar yang harus diminta khusus. Lauk-pauk yang tersedia di meja adalah standar masakan Sunda: tahu dan tempe goreng, ikan mas goreng, dan lain-lain. Lalapannya khas, yaitu hadirnya seikat daun singkong yang dikukus utuh dalam ikatannya–di samping sayur-mayur mentah yang biasa dilalap. Sambalnya adalah pilihan sambal dadak atau sambal oncom.

Saya memilih sambal oncom tentu saja. Soalnya, di Desa Dawuan, tidak jauh dari Kalijati, banyak dijumpai pembuat oncom khas Dawuan yang dibuat dari kacang tanah. Kebanyakan oncom di Bandung dibuat dari ampas tahu–alias kedelai kuning. Oncom dari kacang tanah tentu saja rasanya lebih gurih.

Selain lauk-pauk melimpah, di meja juga tersedia dessert berupa tape dari ketan putih yang dibungkus daun kemiri. Penampilannya sangat mirip dengan tape ketan putih di Brebes, Jawa Tengah. Bedanya, di Brebes tapenya dibungkus daun jambu air, sedangkan di Kalijati pembungkusnya adalah daun kemiri. Keduanya menciptakan jejak pulasan warna hijau lembut pada tape yang manis. Tape itu juga cocok untuk dibungkus sebagai oleh-oleh.  

Setelah Subang

Di lintasan itu juga banyak terdapat warung nasi Sunda yang berjajar-jajar di tepi jalan Desa Cijambe, tidak jauh setelah melintasi Subang. Kebanyakan warung nasi di sini memanfaatkan pemandangan indah pegunungan. Bahkan, ada yang menghadap ke hamparan kebun teh.

Saya singgah di RM Nangka. Seperti juga kebanyakan warung di Cijahe, di sini juga ada berbagai pilihan nasi: nasi timbel, nasi bakar, nasi merah, nasi liwet, dan nasi tutug oncom. Ada pula beberapa lauk yang jarang muncul di tempat lain, misalnya gepuk atau empal yang dibentuk seperti bola dan diikat bambu halus. Empuk dan gurih.

Setelah Cijahe, titik berhenti berikutnya yang dapat disinggahi adalah Cikole dan Lembang. Di Lembang lebih banyak pilihan. Di pasar ada yang menjual ketan bakar dengan berbagai bumbu. Ada juga dua rumah makan yang spesialis tahu.

Banyak kebun stroberi yang menawarkan atraksi memetik sendiri sambil singgah di saung-saung yang menyajikan masakan khas Sunda. Selain itu, juga ada beberapa warung yang spesialis menyajikan masakan dari daging kelinci, baik dalam bentuk sate, sop, gule, maupun kelinci goreng. Bahkan, barudak Bandung pun banyak yang berburu kuliner ke Lembang.

Kalau sedang tidak terburu-buru karena ditunggu mojang Bandung anu gareulis pisan, mungkin lintasan ini dapat Anda pilih–khususnya bila memang ingin melakukan wisata kuliner.


Editor : mbonk