Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 00:17 WIB
LINGKUNGAN
25 Gajah Berkeliaran di Perumahan Chevron
| Kamis, 4 Februari 2010 | 04:20 WIB
|
Share:

Pekanbaru, Kompas - Sekawanan gajah, yang jumlahnya diperkirakan 25 ekor, selama sepuluh hari terakhir masuk ke perumahan milik perusahaan minyak PT Chevron di kawasan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau. Kawanan hewan bertubuh tambun itu tidak merusak rumah, tetapi memakan tanaman yang berada di sekitar permukiman warga.

”Gajah-gajah itu mulai masuk ke kompleks tanggal 24 Januari lalu. Jumlahnya 25 ekor dan terkadang terpecah dalam beberapa kelompok, tetapi biasanya bergerak dalam satu kelompok besar. Mereka keluar kompleks bila sudah cukup mendapat makanan. Sejauh ini mereka belum merusak,” ujar Dwi Pujosutrisno, Pejabat Manajer Humas PT Chevron yang dihubungi hari Rabu (3/2).

Kawanan gajah, kata Dwi, bergerak searah dalam sebuah lintasan. Kompleks Talang dan Krakatau merupakan wilayah yang paling sering dimasuki, disusul Kompleks Leuser. Sesekali gajah itu agak menjauh, masuk ke kawasan Dempo dan Sibayak.

”Kami tidak mengusir gajah-gajah tersebut. Hanya mengawasi dan memastikan mereka melintas sehingga warga dapat menghindar atau jangan sampai berpapasan. Dulu, gajah-gajah itu melintas setiap empat bulan sekali sehingga sudah terbiasa dengan kondisi perumahan. Kami membiarkan gajah memakan pucuk tanaman di sekitar rumah,” ujar Dwi.

Lingkungan rusak

Kepala Seksi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Duri M Hutomo menyatakan, pihaknya tidak menangkap gajah yang berkeliaran di perumahan Chevron, tetapi terus memonitor. ”Bila kondisi membahayakan, kami akan menggiring gajah-gajah itu keluar,” katanya.

Anggota staf Humas WWF Riau, Syamsidar, mengungkapkan, perjalanan gajah di Duri atau di perumahan Chevron merupakan sebuah bukti dari kerusakan lingkungan. Tahun 1986, Duri masih memiliki Suaka Margasatwa Balai Raja seluas 18.000 hektar. Namun, seiring perkembangan perkebunan kelapa sawit di Riau, kawasan hutan konservasi itu dirambah.

”Sekarang kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja tidak sampai 120 hektar dan gajah-gajah itu kehilangan habitat aslinya. Wajar bila mereka masuk ke dalam permukiman penduduk dan bersinggungan dengan masyarakat,” ujar Syamsidar.

Mengantisipasi ketersinggungan gajah dengan penghuni kompleks, kini PT Chevron menanam beberapa jenis tanaman yang digemari gajah di batas luar kompleks. (SAH)