Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 00:08 WIB
DAS Brantas Rawan Longsor
| Kamis, 28 Januari 2010 | 13:49 WIB
|
Share:

 

Kediri, Kompas - Sejumlah bangunan infrastruktur yang berlokasi di sepanjang daerah aliran Sungai Brantas dan tiga anak Sungai Brantas rawan terkena tanah longsor, menyusul tingginya debit air sungai akibat hujan deras selama Januari 2010.

Sejauh ini sudah ada infrastruktur yang rusak, yakni ambrolnya plengsengan di Kaliombo sepanjang 10 meter. Dikhawatirkan, kerusakan akan merembet pada bangunan jalan di atasnya dan juga rumah penduduk, apabila debit air yang masuk ke Kaliombo lebih besar lagi.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Nur Muhyar mengatakan, Rabu (27/1), Pemkab telah melakukan koordinasi dengan Perum Jasa Tirta sebagai pengelola DAS Brantas guna memantau perkembangan debit air.

Pada saat yang sama, instansi terkait seperti Satkorlak Bencana diminta untuk meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi terjadinya bencana. Apalagi kondisi hutan di hulu DAS Brantas telah gundul akibat penebangan liar.

"Saat ini fokus kami justru di tiga anak Sungai Brantas, yakni Kali Kedak, Kali Kresek, dan Kaliombo. Sebab, sungai-sungai ini yang memiliki jalur langsung ke dalam wilayah Kota Kediri," ujarnya, Rabu (27/1).

Bangunan infrastruktur yang diwaspadai antara lain jembatan dan plengsengan. Pemda juga mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir bandang di permukiman warga seperti yang terjadi di kawasan Perumahan Wilis beberapa waktu lalu.

"Penanganan yang cepat sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Kami sudah mengalokasikan anggaran untuk tanggap bencana, tinggal menunggu pencairan. Untuk infrastruktur besar yang berbatasan langsung dengan Sungai Brantas, kami serahkan sepenuhnya kepada Jasa Tirta," katanya. Waduk Kresek

Bupati Madiun Muhtarom, Rabu (27/1), mengatakan, pembangunan Waduk Kresek menjadi solusi untuk menampung limpahan air dari lereng Gunung Wilis setiap musim hujan. Limpahan air ini yang kerap menyebabkan banjir di sejumlah desa di Kecamatan Wungu dan Kecamatan Nglames, Kabupaten Madiun. Pasalnya, Sungai Piring, tempat limpahan air itu mengalir, tidak mampu menampungnya.

Waduk ini tidak hanya bisa mencegah banjir di wilayah Kabupaten Madiun, tetapi bisa juga mencegah banjir di wilayah Kota Madiun. Banjir di wilayah Kota Madiun terjadi juga akibat luapan Sungai Piring yang melintas di Pilangbango, Kartoharjo, Kota Madiun.

Waduk Kresek direncanakan mampu menampung 12 juta meter kubik air. Saat ini, pembangunan waduk masih pada tahap uji analisis mengenai dampak lingkungan. Rencananya waduk tuntas dibangun tahun 2012.

Selain membangun waduk, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Kota Madiun Suwarno sedang mengusulkan ke pemerintah pusat untuk membangun embung (waduk kecil) di Pilangbango. Embung ini akan dibangun di bekas tempat penampungan akhir sampah di daerah tersebut.

"Adanya embung bisa menjadi solusi untuk menampung air sementara karena sungai yang ada tidak bisa menampung seluruh air," tuturnya. (NIK/APA)