Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 07:53 WIB
Udang Galah Jadi Primadona di Duren Sewu
Josephus Primus | primus | Selasa, 19 Januari 2010 | 19:12 WIB
|
Share:

PASURUAN, KOMPAS.com - Para petani di Desa Duren Sewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kini  mengembangkan usaha budidaya udang galah.
    
Uji coba pengembangan budidaya udang galah yang dirintis sejak tahun 2007 dengan luas lahan 1.000 M2 milik dua petani, kini telah berkembang menjadi 8 hektare milik tiga kelompok tani, masing-masing kelompok sebanyak 10 orang.
    
Itu sebabnya, Desa Duren Sewu yang telah berhasil mengembangkan usaha budidaya udang galah, kini menjadi desa binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasuruan.
    
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasuruan, Sulistyowati, Selasa (19/1/2010), menjelaskan, para petani di Desa Duren Sewu, Kecamatan Pandaan, telah berhasil melakukan usaha budidaya udang galah sehinggga mampu membangun pasar.
    
Ia menambahkan, usaha budidaya udang galah yang kini tengah dikembangkan para petani di Desa Duren Sewu tersebut mempunyai peluang cukup cerah. Hasil produksinya, untuk memenuhi permintaan Rumah Makan Sea Food Mang Engking yang ada di desa tersebut masih selalu kekurangan.
    
Melihat keseriusan petani Desa Duren Sewu dalam menekuni budidaya udang galah yang cukup cerah itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasuruan telah melakukan pembinaan, mulai dari memfasilitasi pembentukan kelompok tani, membangun saluran irigasi, membangun handling space untuk sortasi udang pascapanen, serta memperbaiki jalan masuk desa.
    
Kepala Desa Duren Sewu, Sugeng Santosa ditemui terpisah menjelaskan, usaha budidaya udang galah di desanya dirintis sejak tahun 2007.  Awalnya hanya dilakukan dua orang, yakni dirinya, dan seorang petani lainnya, Ahmad Yani, dengan luas lahan pertanian yang disulap menjadi empang masing-masing seluas 5 ribu meter.
    
Budidaya udang galah yang pertama kali itu dilakukan atas bimbingan langsung dari manajemen Rumah Makan Mang Engking di Desa Duren Sewu. Petani saat itu hanya menyediakan lahan, sedangkan Rumah Makan Mang Engking memfasilitasi dengan membantu bibit, serta pakan, dan menampung hasil udang galahnya.
    
Bantuan awal bibit yang dibudidayakan sebanyak 5 ribu ekor untuk lahan masing-masing dua petani seluas 500 meter. Dari hasil uji coba budiaya udang galah yang hasilnya sangat menguntungkan jika dibandingkan dengan usaha tani padi itu menjadi daya tarik bagi petani di Durensewu.
    
Sehingga usaha budidaya udang galah yang awalnya dirintis dengan luas lahan 1.000 meter pada tahun 2007, kini di Desa Duren Sewu telah berkembang mencapai  8 hektar yang dikelola tiga kelompok usaha dengan anggota masing-amsing 10 petani.
    
Sugeng Santosa membandingkan, lahan seluas 1 hektar jika ditanami padi hanya akan menghasilkan gabah sekitar 5 ton dengan harga rata-rata Rp2 .500/kg, sedangkan jika untuk budidaya udang galah, dengan luas yang sama akan menghasilkan udang sebanyak 1,8 ton dengan harga Rp 85 ribu/Kg.                                         
    
Ahmad Yani menyebutkan, usaha budidaya udang galah di Desa Duren Sewu tidak begitu membebani petani. Hanya modal awal untuk mengubah lahan pertanian menjadi empang membutuhkan dana cukup besar, yakni sekitar Rp 5 juta per hektarnya.
    
Namun jika empang telah siap, petani tinggal mengisi bibit udang (benur) yang setiap hektarnya berisi sekitar 100 ribu ekor. Harga benur untuk ukuran glondongan Rp 225/ekor. Sedangkan untuk pakannya stiap hektarnya membutuhkan 3 ton dengan harga Rp 800/kg.
    
Setelah itu usaha budidaya udang tidak begitu membutuhkan biaya lagi, karena petani tnggal menjaga sirkulasi air empangnya. Udang galah membutuhkan air yang cukup bersih, dan sirkulasinya lancar.
    
Setelah benur yang ditebar berumur 3 bulan, sudah mulai bisa dipanen. Panen perdana ini hasil udangnya sangat baik, bisa mencapai antara 70 hingga 80 kg dengan harga Rp 85 ribu per kg. Panen bisa dilakukan  2 sampai 3 kali per minggu.
    
Ahmad Yani menyebutkan, usaha budidaya udang galah sangat menguntungkan dibandingkan dengan usaha tani padi yang selama ini telah ditekuni para petani di Desa Duren Sewu.
    
Ia menyebutkan, jika usaha tani padi setiap tahunnya menghasilkan sekitar Rp 25 juta, dengan kurun waktu yang sama usaha budidaya udang galah bisa menghasilkan Rp 40 juta.
                   
          

Sumber :
Ant