Kamis, 21 Agustus 2014

News / Regional

Wabup Sabaggalet: Isu Gempa Besar Sudah Biasa

Selasa, 19 Januari 2010 | 11:01 WIB

PADANG, KOMPAS.com — Wakil Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet mengatakan, isu gempa besar lebih dari 8,5 SR akan melanda Sumatera Barat sudah menjadi informasi biasa bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Mentawai.
    
"Isu ini sudah cukup lama beredar. Bahkan, setelah gempa 7,9 SR pada 30 September 2009, isu ini kembali menguat," kata Yudas ketika dihubungi dari Padang, Selasa (19/1/2010).
    
Selasa ini, ketika mendengar isu tersebut, dia mengatakan bahwa sebagian masyarakat memilih pindah ke tempat-tempat lain yang tinggi. Namun, sebagian besar warga memilih tetap tinggal di desanya. Yudas mengungkapkan, setelah gempa 7,9 SR, dia sempat melakukan konfirmasi kepada ahli Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
   
"Saya langsung menanyakan tentang kebenaran isu gempa besar itu kepada pakar LIPI," katanya.     
    
Pakar LIPI menjelaskan bahwa kapan gempa besar itu terjadi tidak dapat diketahui. Pihak LIPI menyatakan, apabila gempa besar, Mentawai sebenarnya justru agak lebih aman, kecuali di daerah Sikabaluan karena terhitung lebih rendah.

Jangan resah
   
Menyikapi isu gempa besar tersebut, Wabup Sabaggalet mengimbau agar masyarakat tidak resah. Walau demikian, kewaspadaan harus senantiasa ditingkatkan. Pemkab Kepulauan Mentawai, kata dia, selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat menyangkut kewaspadaan terhadap gempa.
   
Menurut dia, Pemkab Mentawai sudah jauh-jauh hari menyiapkan jalur-jalur evakuasi bagi warga saat terjadi gempa besar dan tsunami. Karena wilayah Mentawai sebagian besar berbukit-bukit, maka jalur evakuasi diarahkan ke perbukitan di sekitar permukiman warga.
   
Masyarakat Mentawai, kata Wakil Bupati, juga diuntungkan dengan bangunan rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu. Buktinya, pada gempa 30 September 2009, tidak ada warga Mentawai yang meninggal karena tertimpa bangunan rumah.
   
Ia menyebutkan, di Mentawai saat ini sudah dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPBD). Pada 2009, dana Rp 30 miliar dialokasikan bagi lembaga tersebut. Dalam jangka panjang, kata dia, Pemkab Mentawai terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas penanganan bencana.
   
Pemkab Mentawai, lanjut dia, sedang memikirkan cara agar di tiap pulau di Mentawai terdapat gudang persediaan makanan. Dengan demikian, saat gempa bumi, pihak pemerintah tidak mengalami kesulitan dalam pengadaan bahan makanan karena kesulitan transportasi antarpulau.
      
Dengan demikian, camat-camat lebih mudah dalam pengambilan keputusan. Bantuan komunikasi, kata dia, juga mesti menjadi perhatian ke depan. Sebab, dengan pengalaman dari gempa sebelumnya, saluran komunikasi langsung terputus.
   
Oleh karena itu, alat komunikasi yang efektif perlu dipikirkan. Misalnya, pemkab sedang mengupayakan agar setiap desa memiliki handy talky untuk berkomunikasi.
   
Sebelumnya, sekelompok ilmuwan yang dipimpin Profesor John McCloskey, dari Enviromental Sciences Research Institute di University of Ullster, Irlandia Utara, memperingatkan ancaman gempa besar di wilayah Sumatera.
     
Karena itu, mereka meminta pemerintah bersiap mengantisipasi kemungkinan gempa yang diperkirakan bisa menimbulkan korban tewas, seperti bencana tsunami di Aceh.
   
Kelompok ilmuwan itu kemudian mengirim peringatan tersebut melalui surat di jurnal Nature Geoscience, Minggu. Para ilmuwan memperkirakan akan terjadi gempa dengan kekuatan lebih dari 8,5 (magnitude) di segmen Mentawai.


Editor : Abi
Sumber: