SOREANG, KOMPAS.com — Ratusan rumah penduduk Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terendam air hingga ketinggian antara 50 sentimeter hingga 180 sentimeter, akibat banjir bandang luapan Sungai Cikeruh, Rabu (6/1/2010).
Menurut laporan sementara yang diterima Kantor Kesatuan Bangsa Perlindungan Masyarakat dan Politik (Kesbang Linmas Pol) Kabupaten Bandung, ketinggian air mulai naik sejak pukul 14.00 WIB. Air sungai yang naik begitu cepat hingga meluap dan begitu deras tersebut, selain menggenangi rumah penduduk desa, juga merobohkan sebuah jembatan di Desa Dangdeur.
Secara otomatis, arus lalu lintas dari arah Jalan Raya Rancaekek menuju Desa Dangdeur dan sebaliknya pada saat itu pula terputus hingga menimbulkan kemacetan baik dari arah barat maupun timur Kecamatan Rancaekek.
Hingga Rabu malam, menurut Kepala Kantor Kesbang Linmas Pol Kabupaten Bandung Sutarno Yono, pihak Kantor Kecamatan Rancaekek masih terus melakukan evakuasi warga desa setempat.
"Saya baru menerima telepon dari petugas Kecamatan Rancaekek, pihaknya memerlukan beberapa unit perahu karet untuk keperluan evakuasi warga desa yang menjadi korban banjir bandang ini," kata Sutarno Yono, di Soreang, Rabu malam.
Yono menyebutkan, selain beberapa unit perahu karet yang sudah dikirim ke lokasi banjir, Kantor Kecamatan Rancaekek pun diajurkan meminta bantuan perahu karet kepada Markas Brimob Polda Jawa Barat, Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. "Daerah Kecamatan Rancaekek, kan tidak jauh dari Markas Brimob, kalau kekurangan perahu karet pihak kecamatan tinggal minta saja bantuan ke sana," ujar Sutarno Yono.
Selain itu, lanjut Sutarno Yono, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Catatan Sipil dan Kependudukan Kabupaten Bandung untuk segera menerjunkan tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan petugas PMI Cabang Kabupaten Bandung.
Sutarno menyebutkan, hingga pukul 20.00 WIB, pihaknya belum menerima laporan pasti jumlah rumah yang tergenang air, korban jiwa, dan jumlah kerugian akibat banjir bandang ini. "Kami belum sampai kepada pendataan jumlah korban atau kerugiannya, petugas kecamatan dan aparat desa, hingga saat ini masih disibukkan untuk melakukan evakuasi warga," katanya.


