DENPASAR, KOMPAS.com — Kemacetan arus lalu lintas di kawasan wisata internasional Kuta, Bali, yang berlangsung dalam beberapa hari ini semakin menjadi-jadi. Kemacetan tidak saja terjadi di jalur utama, tetapi mulai merambah "jalan tikus".
Hingga Sabtu (2/1/2010), gang-gang kecil yang selama ini biasa menjadi jalur alternatif, sejak menyongsong tahun baru 2010 hampir sepanjang siang hingga malam tak luput dari kemacetan akibat melimpahnya motor, taksi, maupun mobil pribadi dan kendaraan wisata.
Hal itu terjadi akibat mulut gang di jalur utama, baik seperti Tuban-Jalan Raya Kuta-Imam Bonjol, Kartika Plaza arah bandara, Pantai Kuta, Jalan Kediri-Wana Segara, Sunset Road-Bay Pass Ngurah Rai arah bandara, maupun Nusa Dua, hampir selalu dipenuhi kendaraan yang terjebak kemacetan.
Pengendara yang memilih masuk "jalan tikus" seperti Jalan Bakung Sari dan gang-gang kecil di sekitarnya hanya bisa merasa lega sesaat karena segera terjebak kemacetan akibat tidak bisa keluar dari jalan itu.
Demikian pula pengendara motor dan taksi di Jalan Legian-Kuta yang mencoba menerobos melalui Gang Popies dan gang-gang lainnya. Mereka juga terjebak kemacetan akibat banyaknya kendaraan dari lawan arah yang mencoba keluar dari Pantai Kuta.
"Kondisi arus lalu lintas di kawasan Kuta sejak masa liburan akhir tahun hingga awal 2010 ini benar-benar macet. Banyak menyita waktu wisatawan, selain membuat was-was bagi yang mengejar waktu penerbangan ke Bandara Ngurah Rai," kata Dedek Warjana dari Bali Excotic Holidays.
Akibat kemacetan parah dalam beberapa hari ini, wisatawan banyak yang memilih turun dari kendaraannya dan berjalan kaki beberapa kilometer untuk menuju Pantai Kuta, Bandara Ngurah Rai, maupun tujuan lainnya. Sepasang warga asing, misalnya, setelah lebih sejam terjebak kemacetan dari kawasan Pantai Kuta-Jalan Kartika Plaza, memilih turun dari taksi yang ditumpanginya.
Dengan ransel besar di punggung, tas jinjing dikalungkan ke leher, mereka terlihat dengan susah payah menarik-narik koper besar yang berulang kali terguling akibat trotoar bergelombang. Beruntung ada dua ojek sepeda motor yang menghampirinya sehingga mereka dapat mengejar waktu penerbangan ke Bandara Ngurah Rai yang berjarak sekitar satu kilometer lagi.
"Lumayan, 50 dollar AS," komentar tukang ojek tersebut.
Walaupun jarak Bandara Ngurah Rai-Pantai Kuta hanya sekitar empat kilometer, saat macet parah, pengguna mobil memerlukan waktu tempuh dua hingga empat jam. Hanya ojek sepeda motor yang masih bisa menerobos dengan naik-turun dari badan jalan ke trotoar dan sebaliknya.
Sejauh ini belum ada kebijakan baru dari pemerintah guna mengatasi kemacetan arus lalu lintas di kawasan Kuta tersebut. Bahkan, pengaturan terhadap kemacetan di persimpangan-persimpangan kebanyakan hanya dibantu oleh warga biasa.


