Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 23:27 WIB
Majelis Alumni IPNU Imbau Hentikan Perayaan Tahun Baru
Nisa | tof | Kamis, 31 Desember 2009 | 00:06 WIB
|
Share:

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Meninggalnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur meninggalkan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Hal tersebut salah satunya di temui di Tugu Yogyakarta, Rabu (30/12/2009), saat sejumlah warga dari lintas agama dan golongan menyalakan lilin duka sebagai ungkapan penghormatan terakhir dan doa untuk mengiringi kepergian Gus Dur.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menyatakan rasa berkabung atas wafatnya Gus Dur. Mereka mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan perayaan pesta tahun baru karena bangsa Indonesia masih dalam keadaan berduka.

Dalam konteks demikian, kata dia, wajar jika Presiden menghimbau bangsa Indonesia untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung selama satu minggu penuh. Untuk itu, Majelis Alumni IPNU mengimbau seluruh masyarakat Indonesia menjadikan hari berkabung nasional ini dengan tidak menjalankan aktifitas hura-hura.

"Bagi yang merencanakan pelaksanaan pesta perayaan pergantian tahun, kami mengimbau dapat menyesuaikan diri dengan suasana berkabung nasional ini", tegas Sekretaris Jenderal Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Asrorun Ni'am Sholeh, dalam pesan singkat kepada Kompas.com, Rabu (30/12/2009).

Ni'am menyatakan, sebagai mantan Presiden RI ke-4, Gus Dur dikenal luas secara internasional. Untuk itu, bangsa Indonesia dan masyarakat internasional sangat kehilangan dengan wafatnya Gus Dur.

"Maka itu tidak etis bila berfoya-foya merayakan tahun baru di tengah situasi duka bangsa," ujar peneliti Lembaga Studi Agama dan Sosial ini mengingatkan.

Ni'am mendukung usulan penganugerahan pahlawan nasional dan guru bangsa kepada Gus Dur mengingat jasa dan kegigihannya dalam menegakkan sendi-sendi persatuan bangsa.