Kamis, 28 Agustus 2014

News / Regional

Bendungan Jatigede Selesai Tahun 2013

Senin, 28 Desember 2009 | 14:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bendungan Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, direncanakan selesai tahun 2013. Saat ini pembangunan fisik Bendungan Jatigede sudah memasuki tahapan pembangunan saluran pelimpah (diversion tunnel). Pekerjaan pembangunan fisik mencapai 18,6 persen dari rencana 19,3 persen tahun ini. Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum, Iwan Nursyirwan menegaskan hal ini di Jakarta, Senin (28/12/2009).

Pekerjaan yang sudah dilaksanakan meliputi pembangunan diversion tunnel dan pekerjaan galian serta timbunan persiapan tubuh bendungan (main dam). "Kami optimistis Bendungan Jatigede optimis dapat diselesaikan tahun 2013," kata Iwan.

Pembuatan diversion tunnel telah mencapai pembuatan terowongan sepanjang 193 m dari rencana total panjang 550 m. Pembuatan terowongan dilakukan dari dua arah. Saat ini pelaksanaan pengeboran terowongan baru dilakukan dari arah up stream bendungan.

Pelaksanaan dari arah down stream akan dimulai awal Januari 2010, sedangkan pembangunan diversion tunnel direncanakan dapat diselesaikan bulan Juni 2010 sehingga pengalihan aliran sungai (river closer) dapat segera dilakukan. Pekerjaan pembangunan akan dilanjutkan dengan membuat cofferdam dan tubuh bendungan.
 
Bendungan yang terletak di Desa Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ini bakal menjadi bendungan terbesar di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur, dengan kapasitas tampungan 1 miliar meter kubik dan luas genangan 4.122 ha. Bendungan ini direncanakan dapat berfungsi meningkatkan produksi padi di Daerah Irigasi (DI) Rentang seluas 90.000 ha yang berlokasi di daerah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan sekitarnya. Selain itu, bendungan ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi penyediaan tenaga listrik sebesar 110 MW.

Kontrak pembangunan Bendungan Jatigede ini ditandatangani bulan April 2007 antara Pemerintah Indonesia dan kontraktor China Sinohydro Coop Ltd dengan nilai kontrak Rp 2,2 triliun (239,5 juta dollar AS). Kontraktor China didampingi kontraktor Indonesia, yaitu PT Wijaya Karya, PT Hutama Karya, PT Waskita Karya, dan PT PP.


Editor : ksp