Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 02:10 WIB
Perajin Sarung Tenun Samarinda Tak Takut Serbuan Sarung Tiruan
Defri Werdiono | wah | Minggu, 27 Desember 2009 | 18:05 WIB
|
Share:

SAMARINDA, KOMPAS.com - Meski sarung tiruan buatan pabrik semakin marak, para perajin sarung tenun di Kelurahan Masjid, Samarinda Seberang, mengaku semua itu belum menjadi ancaman. Sarung tenun Samarinda asli buatan tangan memiliki konsumen tersendiri.

Jumlah perajin sarung di Kelurahan Masjid yang lokasinya berada di tepian Sungai Mahakam sekitar 116 orang. Mereka membuat sarung menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ditempatkan di teras rumah. Setiap perajin rata-rata menyelesaikan satu potong sarung dalam waktu satu-dua hari.

Sumarni perajin sekaligus Ketua Koperasi Usaha Bersama Wanita Makunrai Etam Sejahtera Minggu (27/12/2009), menuturkan, pengiriman sarung ke pedagang di Balikpapan masih berlangsung dua kali dalam satu bulan. Selain Balikpapan, ia juga mengirim produk ke Samarinda. Sarung kualitas bagus dijual Rp 250.000 hingga atau 500.000 (sepasang pria dan wanita), sedang sarung yang berkualitas nomor dua Rp 150.000.  

"Banyak pabrik yang meniru motif sarung Samarinda. Penjualannya pun sampai ke pelosok, termasuk Samarinda Seberang. Para perajin tidak terpengaruh keberadaan sarung tiruan, hanya saja kasihan konsumen yang tidak tahu akan tertipu," ujarnya.

Sarung buatan pabrik yang meniru motif Samarinda memang harganya lebih rendah dari sarung buatan tangan warga setempat. Sarung tiruan dengan ukuran 200 centi meter x 110 centimeter bisa dibeli Rp 75.000. Ironisnya, banyak pedagang mencoba membuat sarung pabrik itu menjadi sama dengan sarung buatan tangan. Pedagang sengaja m elipat dan menjahit bagian tengah sarung sehingga mirip dengan sarung buatan tangan.

Selama ini, sarung buatan tangan hasil masyarakat Samarinda memiliki jahitan di tengah yang disebabkan oleh keterbatasan ukuran ATBM. Menurut Sumarni, salah satu cara agar sarung sulit ditiru adalah memberikan motif sobbi di bagian tumpahan (belakang).

Hj Rohana perajin dari industri rumah tangga HM Idris yang berada di Jalan Pangeran Bendahara mengatakan masih banyak orang-orang dari luar, termasuk Jakarta dan beberapa kota lainnya di Jawa yang datang untuk membeli sarung ke tempatnya. Selama ini Rohana meneruskan usaha orangtua dengan produk bermotif, antara lain anyam pelupuh dan ketam hitam.

Setiap bulan ada saja yang datang dan membeli ke sini. Menurut Rohana keberadaan sarung tiruan sudah ada sejal lama, namun akhir-akhir ini semakin gencar.