SAMARINDA, KOMPAS.com - Kebersamaan antara Barisan Sukarela Kebakaran dan Siaga Bencana (Balakar) di Samarinda harus ditingkatkan. Samarinda memiliki cukup banyak Balakar dan sejauh ini memiliki fungsi penting dalam menghadapi bencana, utamanya kebakaran.
Gusti Ahmad Iviv Kresna Moelya Koordinator Pelaksana Harian Barisan Sukarelawan Kebakaran dan Siaga Bencana (Balakar) Gabungan Samarinda, Minggu (27/12/2009), menuturkan beberapa waktu ini Balakar Kota Samarinda membentuk banyak rayon, subrayon, dan subunit. Namun, sejauh ini program-program yang bersifat kebersamaan tidak dilakukan (vakum), sehingga terkesan balakar itu berjalan sendiri-sendiri.
Mengetahui hal itu, Gusti yang berasal dari Balakar Karya Baru bersama Balakar Sungai Keledang, enam bulan lalu membentuk sebuah gabungan menjadi Balakar Gabungan Samarinda. Kebetulan, Balakar Karya Baru dan Sungai Keledang memiliki beberapa subbalakar.
"Dari sini tidak menutup kemungkinan balakar lain yang ada di Kota Samarinda bisa ikut bergabung untuk latihan," ujar Gusti yang ditemui di sela-sela latihan bersama di tepian Sungai Mahakam. Balakar Gabungan Samarinda yang beranggotakan 90 relawan ini melakukan latihan dasar keterampilan pengenalan selang dan bagaimana cara penggunaannya.
Sejauh ini, dalam menangani bencana Balakar Gabungan berusaha kerjasama dengan berbagai pihak, seperti lembaga swadaya masyarakat maupun forum pendengar radio di Samarinda. Ke depan, mereka juga akan bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia dan Kepolisian.
"Yang kami tangani harusnya kebakaran. Namun, yang terjadi kemudian bukan lagi kebakaran. Karena itu kami bekerja sama dengan pihak lain, misalnya penanggulangan banjir. Kebakaran di Samarinda cukup banyak, baik itu menyangkut permukiman yang kebetulan padat maupun instansi. Bulan ini saja sampai lima kali, empat di antaranya berada di Samarinda Seberang," tutur Gusti.
Zahedy Sukmawira Ketua Balakar Nakula Sadewa, salah satu Balakar yang beranggotakan orang-orang kembar, mengatakan banyak balakar di Samarinda yang berusaha memenuhi peralatan dengan swadaya. Nakula Sadewa, misalnya, yang berdiri tahun 2000 pada awal mu lanya berusaha melengkapi kendaraannya sendiri. Setelah itu, baru mencoba mendekati pemerintah daerah untuk kelengkapan yang lain.


