JAMBI, KOMPAS.com - Tempat pembuangan sampah akhir atau TPA Talang Gulo di Kota Jambi daya tampungnya hanya tersisa 15-20 persen, atau diperkirakan akan penuh dalam waktu dua tahun lagi.
Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman (DKPP) Kota Jambi Feriadi mengatakan, Selasa (22/12), TPA Talang Gulo di Kota Jambi hampir penuh. Bahkan, kapasitasnya sudah tidak mencukupi lagi jika tidak diperluas atau ada area tambahan untuk menampung sampah Kota Jambi yang terus meningkat produksinya.
Dari lahan 10 hektar, yang tersisa kurang dari 20 persen, sehingga kapasitasnya untuk menampung sampah tidak akan lebih dari tiga tahun. "Sekitar 25-30 persen sampah di Kota Jambi berasal dari pasar. Sisanya dari sampah rumah tangga dan industri," kata Feriadi.
Produksi sampah di Kota Jambi, yang berasal dari pasar, rumah tangga, bisnis, dan industri, jumlahnya mencapai 1.000 meter kubik per hari. Produksi sampah di Kota Jambi tinggi karena pertumbuhan jumlah penduduknya relatif pesat. Lima tahun lalu, sampah yang dihasilkan warga Kota Jambi berkisar hanya 600 meter kubik per hari, sedangkan kini naik sampai 60 persen menjadi 1.000 meter kubik.
Akan tetapi, tidak semua sampah di Kota Jambi ternyata terangkut ke TPA, sebagian ada yang dibakar warga. Sebab, truk pengangkut sampah yang tersedia di DKPP Kota Jambi hanya ada 28 unit, dengan kapasitas angkutnya per hari sekitar 550-600 meter kubik per hari. Setidaknya, 400 meter kubik sampah di Jambi harus mengantre diangkut, sehingga sering terlihat penumpukan sampah di pinggir jalan atau di tempat pembuangan sementara.
Tidak semua truk sampah kondisinya bagus. Hanya 10 truk yang usianya di bawah lima tahun, lainnya di atas 10 tahun. Akibatnya, saban hari pasti ada truk yang tidak berfungsi karena diperbaiki. Oleh karena itu, pengangkutan sampah dari Kota Jambi ke TPA masih belum optimal.
"Usia pakai TPA itu sudah 12 tahun, sejak tahun 1997, sehingga sekarang kondisinya sudah penuh, bahkan berlebih, kata Doddy Hidayat," Kepala Bidang Angkutan DKPP Kota Jambi.


