YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Mahasiswa sambut puncak perayaan Dies Natalies Ke-60 Universitas Gadjah Mada dengan unjuk rasa dan aksi memungut sampah di kawasan kampus. Aksi ini merupakan protes terhadap perayaan dies natalies dan sejumlah kebijakan kampus lain yang dinilai tidak mencerminkan semangat kerakyatan.
Sekitar 50 mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Gadjah Mada (UGM) memulai unjuk rasa UGM Bersih ini, Sabtu (19/12/2009) siang. Mereka memungut sampah di sepanjang Bundaran Kampus hingga ke gedung Grha Sabha Pramana tempat puncak perayaan Dies Natalies Ke-60 UGM yang dihadiri Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X dan sejumlah petinggi UGM.
Humas Aksi Aji Prakoso menyatakan, aksi memungut sampah itu sebagai simbol membersihkan kebijakan-kebijakan UGM yang dianggap menodai semangat kerakyatan yang selama ini menjadi label UGM. Para pengunjuk rasa menilai sejumlah kegiatan dalam merayakan Dies Natalies Ke-60 UGM merupakan kegiatan menghambur-hamburkan dana demi kemegahan. Di antara kegiatan Dies Natalies yang paling menuai kritik adalah lomba golf dan pagelaran musik jazz. Menurutnya, aksi ini merupakan perayaan dies natalies menurut mahasiswa agar pihak kampus mengevaluasi diri.
Selain memungut sampah, para mahasiswa juga membawakan orasi dan mengusung poster yang mengecam kebijakan pemasangan portal di pintu masuk kampus dan semakin tingginya biaya kuliah di kampus tersebut. Salah satu kardus yang digunakan sebagai tempat sampah memuat tulisan terkait sejumlah kebijakan kampus yang dikritik para mahasiswa. Kritik itu antara lain, UGM (Universitas Gedhe Mbayare), kebijakan portalisasi, pembangunan University Hotel, dan lomba-lomba dies natalies yang tidak mencerminkan pendidikan.
Menurut Aji, biaya kuliah UGM terus melambung tinggi sejak beberapa tahun terakhir. Tingginya biaya diduga demi menyediakan fasilitas-fasilitas yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan dalam kegiatan akademis, seperti hotel, mobil dinas, internet tanpa kabel, dan portal kampus.
"Akibat tingginya biaya kuliah, pelajar tak mampu pun semakin sulit berkuliah di UGM. Kuota untuk masyarakat tak mampu untuk kuliah di UGM pun semakin dibatasi," ujarnya.
Ketua BEM KM UGM Qadaruddin dalam orasinya berharap agar UGM segera merevisi sejumlah kebijakan dan mengembalikan semangat kerakyatan sesuai tujuan awak UGM didirikan. Hal itu terutama untuk menurunkan biaya kuliah dan menambah beasiswa bagi mahasiswa miskin.
Aksi unjuk rasa ini tidak mendapat tanggapan dari pihak kampus. Aksi berakhir dengan tertib setelah berlangsung selama sekitar dua jam.
Dihubungi secara terpisah, Rektor UGM Sudjarwadi menyangkal tuduhan mahasiswa bahwa UGM tidak lagi berorientasi pada kepentingan rakyat. "Kami terus memperbanyak program-program di daerah-daerah di seluruh Indonesia demi kepentingan rakyat," ujarnya.
Sudjarwadi juga menampik anggapan bahwa UGM membatasi pelajar miskin untuk berkuliah di UGM. Menurutnya, pihak kampus justru telah mengumpulkan dana dari sejumlah perusahaan senilai Rp 6 miliar untuk tahun ini guna menggratiskan biaya masuk dan beasiswa kuliah di UGM kepada para pelajar miskin yang berprestasi.
Mengenai tingginya biaya kuliah di UGM, Sudjarwadi, menyatakan bahwa hal itu diperlukan untuk menyediakan fasilitas dan sarana yang memadai untuk menjadi perguruan tinggi tingkat internasional.


