
MADIUN, KOMPAS.com — Monumen Kresek di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, kerap digunakan oleh pengunjung tak bertanggung jawab untuk berbuat mesum. Warga sekitar kompleks monumen peringatan bagi korban kekejaman pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berharap kepada pihak berwenang untuk segera mengambil tindakan.
“Sebetulnya warga masyarakat sekitar sudah risih. Namun, bagaimana lagi, sulit dicegah. Di monumen tidak ada penjagaan khusus,” ujar Indah, pedagang di sekitar Monumen, Rabu (16/12/2009).
Menurut Indah, setiap malam minggu atau bertepatan dengan hari liburan, kompleks wisata ini banyak dikunjungi oleh pasangan remaja.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Kabupaten Madiun Heri Cahyono mengemukakan, pihaknya hanya bertugas untuk pencatatan obyek wisata. “Sedangkan yang mengurusi masalah pengelolaannya adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Sementara untuk urusan ketertiban merupakan kewenangan dari Satuan Polisi Pamong Praja,” katanya.
Karena itu, lanjut Heri, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna menindaklanjuti masalah ini.
Monumen Kresek dibangun di atas lahan seluas 2 hektar. Letaknya berada 15 km ke arah timur dari Kota Madiun dan terdiri dari monumen serta relief peninggalan sejarah tentang keganasan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Fasilitas wisata yang ada di tempat ini, antara lain, pendapa tempat istirahat, taman bunga, dan dilengkapi pula areal parkir.