MANADO, KOMPAS.com- Warga daerah perbatasan di Miangas dan kepulauan di Talaud dan Sitaro, terus meminta perhatian pemerintah terutama dalam hal pembangunan daerah yang masih minim.
Perhatian pemerintah ini sangat penting mengingat daerah perbatasan dan kepulauan sering kali dituding sebagai daerah yang rawan terhadap berbagai gangguan dari pihak luar. Penegasan ini disampaikan Kepala Badan Pengelola Pesisir Daerah Perbatasan, Max Gagola. "Mereka sering merasa dianaktirikan dalam hal pembangunan terutama pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian mereka," ujarnya.
Gagola mengatakan, perhatian pemerintah sebenarnya bisa diawali dari persiapan pembangunan dermaga di daerah-daerah sentra ekonomi. Pasalnya kata Gagola, satu satunya alat transportasi yang menunjang perekonomi warga perbatasan dan kepulauan adalah transportasi laut.
Dia mencontohkan tragedi banjir bandang di Sitaro yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda. Daerah kepulauan hanya bisa ditempuh paling mudah menggunakan sarana transportasi laut. "Itulah sebabnya pembangunan dermaga dan penyiapan alat transportasi yang memadai untuk warga kepulauan dan perbatasan sangat mendesak diperhatikan," ujar Max Gagola.
Dia mengatakan, pihaknya akan terus memperhatikan fasilitas yang dibutuhkan warga perbatasan dan kepulauan. Terutama desakan kepada pemerintah agar warga perbatasan juga tak tertinggal dibandingkan daerah lain.
"Daerah perbatasan sering dituding sebagai tempat yang aman untuk pelatihan dan pengiriman para pemberontak dan teroris yang akan ke luar negeri. Ini kan butuh perhatian serius dari pemerintah," ujarnya.


