BANYUMAS, KOMPAS.com - Curah hujan tinggi saat ini menjadi musim paceklik bagi perajin gula kelapa di Banyumas. Nira, yang merupakan bahan baku gula kelapa, pada saat musim hujan ini bercampur dengan air. Akibatnya, kualitas dan harga gula kelapa pun turun.
"Kalau musim hujan seperti ini repotnya dua kali. Risikonya lebih besar karena pohon kelapa jadi licin, kualitas niranya juga tak bagus karena banyak airnya," tutur Sumadi (43), perajin gula kelapa sekaligus pederes nira di Desa Sukawera, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jumat (11/12/2009).
Jumlah perajin gula kelapa di Banyumas sekitar 30.000 orang. Dalam proses pembuatannya mereka melibatkan keluarga, baik sebagai pederes maupun pemasak. Dengan demikian, subsektor ini banyak menjadi gantungan ekonomi masyarakat di pedesaan.
Harga gula kelapa dari perajin ke pengepul saat ini hanya sekitar Rp 2.400 per kilogram sampai Rp 2.700 per kg. Harga tersebut jauh menurun dibanding harga gula kelapa pada saat musim kemarau lalu yang mencapai Rp 3.500 per kg.
Kandungan air dalam nira pada saat musim hujan seperti ini, kata Sumadi, kadang mencapai 40 persen. Meskipun hasil dalam bumbung tempat nira selalu penuh saat dipasang di manggar kelapa selama sehari, namun saat di masak hasil gulanya sangat sedikit.
"Lebih repotnya lagi waktu memasak gulanya menjadi lebih lama karena harus menguapkan air dalam nira dulu. Bisa sampai delapan jam. Padahal, biasanya cuma 4-5 jam," kata dia.
Akibat lebih lamanya waktu yang diperlukan untuk memasak gula tersebut, kayu bakar yang dibutuhkan puan kian banyak sehingga biaya pemasakan nira membengkak. Dengan harga gula Rp 2.500 per kg dan hasil sekali masak 7-10 kg kami hanya dapat Rp 20.000. "Itu masih dikurangi uang untuk beli kayu. Paling bersih dapatnya Rp 15.000," kata Sumadi.
Untuk menambah pendapatan, para perajin gula nyambi bekerja sebagai buruh tani. Kebetulan, saat ini areal persawahan di wilayah Kecamatan Banyumas dan sekitarnya sedang memasuki masa tanam musim rendeng.
Warijan (51), perajin gula di Desa Plana, Somagede, mengatakan, sampai saat ini pasar untuk gula kelapa masih kurang menguntungkan perajin atau pederes, khususnya di musim hujan. Harga mudah sekali jatuh. Padahal, pada saat-saat seperti ini perajin gula sedang mengalami kesulitan.
"Kami berharapa pemerintah itu juga membantu pemasarannya agar harga gula kelapa tak tiba-tiba turun seperti ini. Kalau gula pasir saja bisa, mengapa gula kelapa tidak?" kata dia.


