SURABAYA, KOMPAS.com - Hasil rekomendasi konsultan independen Australia menunjukkan harga jual mata air Umbulan masih relatif mahal, yaitu sekitar Rp 10.000 per meter kubik. Padahal, rata-rata kemampuan beli kebutuhan air minum masyarakat hanya Rp 3.000 per meter kubik.
"Agar mata air Umbulan bisa mengalir ke lima daerah, maka harga jual air menjadi tinggi. Ini akan memberatkan masyarakat," kata Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, Senin (7/12) dalam pertemuan dengan anggota Komisi VI DPR di Ruang Kertanegara, Kantor Gubernur Jatim, Surabaya.
Selain memberatkan kemampuan beli masyarakat, dengan tingginya harga air maka para investor akan berpikir ulang untuk mengikuti tender. Para calon investor khawatir jika tak mampu mengembalikan dana investasi yang besar dalam waktu singkat.
Menurut Saifullah, jika harga air berkisar Rp 4.000 per meter kubik hingga Rp 4.500 per meter kubik, maka Pemprov Jatim dan kabupaten/kota masih bisa mengusahakan subsidi bagi masyarakat. Namun, jika harga air menembus Rp 10.000 per meter kubik maka anggaran Pemprov Jatim dan kabupaten/kota tak akan mampu menanggung.
Berdasarkan prediksi awal, pembangunan infrastruktur pipa Umbulan membutuhkan dana hingga Rp 2,3 triliun. Mata air umbulan berkapasitas 4.000 liter per detik itu akan disa lurkan ke lima daerah, yaitu Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, dan Kabupaten Gresik.
Meski hasil penelitian dari tim independen Australia sudah disampaikan, namun Pemprov Jatim masih akan meminta keterangan lebih lanjut rincian perhitungan pembiayaan eksplorasi Umbulan. "Kami akan menanyakan mengapa bisa semahal itu. Jika biaya bisa ditekan, maka diharapkan ada solusi pembiayaan, misalnya dengan sharing dana dari pusat, pemprov, dan daerah," tambah Saifullah.
Terancam
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR Mohammad Misbakhun mengatakan, konservasi wilayah mata air Umbulan mendesak dilakukan. Masalahnya, saat ini bermunculan perusahaan-perusahaan swasta yang menyedot air secara liar di sekitar mata air Umbulan.
"Sekitar empat kilometer dari mata air terdapat perusahaan air minum berskala besar yang sudah melakukan eksploitasi. Bahkan, saat ini ada pula perusahaan swasta yang akan melakukan penyedotan dengan jarak 1,5 kilometer dari sumber mata air Umbulan," paparnya.
Menyikapi hal ini, Saifullah mengatakan, Pemprov Jatim akan segera memeriksa proses eksploitasi liar sumber mata air di sekitar Umbulan.

