Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 11:42 WIB
Brankas Jebol Dipalu, Honor Rp 700 Juta Amblas
| tof | Minggu, 6 Desember 2009 | 23:14 WIB
|
Share:

MALANG, KOMPAS.com - Brankas uang seberat 700 kg milik kampus Fakultas Pendidikan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) Universitas Negeri Malang (UM) dibongkar pencuri dengan palu dan dicongkel. Sedikitnya, uang tunai Rp 700 juta milik kampus lenyap dalam aksi pencurian yang diperkirakan terjadi Sabtu (5/12) dinihari.

Selain mengambil uang milik kampus yang ada di dalam brankas di dalam ruang pimpinan fakultas (dekan), pencuri juga mengambil sejumlah uang di tiga ruang lain yang ada di lantai dasar itu.

Di Ruang Kasubbag Keuangan dan Kepegawaian, uang Rp 9.000.000 amblas. Sedangkan di Ruang Kasubbbag Akademik, Ruang Kasubbag Umum dan Perlengkapan, masing masing Rp 3.000.000 dan Rp 800.000 raib.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan tim identifikasi Polresta Malang, pencuri memasuki gedung melalui pintu samping lantai dua. Para pencuri dengan mudah menuju lantai atas karena ada tangga darurat (emergency) di samping gedung.

Pencuri masuk dengan merusak pintu yang terdiri dari dua bagian. Pintu pertama yang ada di sisi luar, dicongkel. Pintu kedua yang berupa teralis besi dirusak bagian teralisnya hingga cukup untuk tubuh pria berukuran besar menerobosnya. Pencuri juga dipastikan keluar dari tempat ini, karena pintu depan yang menjadi satu satunya akses masuk, tidak jebol atau rusak.

Pencuri kemudian masuk ruang Dr H Istamar Sjamsuri MPd, Dekan Fakultas Pendidikan (FP) MIPA, dan membongkar brankas setinggi 1 meter dan seberat 700 kg. Aksi penjahat itu diperkirakan berjalan selama 30 menit.

Selain menggondol uang Rp 700 juta yang ada di brankas, pencuri juga mencongkel laci meja kerja Istamar, di mana ada uang Rp 35 juta milik Istamar yang disimpan di sana.

“Uang itu milik saya pribadi dan saya masukkan dalam empat amplop. Rencananya akan saya setor ke bank pada Senin (7/12) nanti. Eh.. hilang duluan,” keluh penuh penyesalan dari Istamar yang sejak Jumat (4/12) siang ada di Surabaya karena rapat dengan Dewan Pendidikan Tinggi Depdiknas.

Begitu mengetahui kampusnya dibobol maling, Istamar segera kembali ke Malang untuk melihat sendiri apa yang hilang.

Pencuri sepertinya memang hanya mengincar uang. Terbukti dua laptop canggih milik Istamar sama sekali tidak disentuh. Lemari lain yang ada di ruangan juga tidak dibuka sama sekali. Ini menjadi tanda bagi petugas bahwa para pencuri memang sudah tahu di mana lokasi penyimpanan uang, sekaligus mengindikasikan ada orang dalam yang terlibat.

“Logikanya, kalau dia pencuri biasa, tiga lemari lain di ruangan ini pasti juga dicongkelnya. Tapi yang dibongkar cuma brankas dan laci meja kerja. Ini indikasi pelaku sudah tahu tempat yang ada uang. Dua laptop pun juga tidak diambilnya. Dan yang mencurigakan, saat membongkar brankas sebesar ini masak tidak terdengar. Kan suaranya pasti keras saat itu,” kata Kapolesta Malang, AKP Daniel Tahi Monang Silitonga, saat melakukan olah TKP di ruang dekan.

Meskipun Kapolresta tidak secara tegas mengatakan indikasi keterlibatan orang dalam, fakta olah TKP menguatkan hal ini. Pengendusan bau pelaku dengan menggunakan dua anjing pelacak unit K-9 Brimob Malang menunjukkan pelaku pernah memasuki ruang lain di gedung FP MIPA. Bahkan jejak bau juga tercium oleh anjing pelacak di ruang percetakan FP MIPA, ruang yang tertutup dan hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja.

Jejak bau pelaku kemudian terhenti di pos tempat parkir yang ada di sisi utara dan berjarak sekitar 200 meter dari gedung FP MIPA.

“Kami masih harus mendalami data yang ada, mengumpulkan keterangan saksi dan bukti yang ada. Yang pasti kami akan bekerja keras untuk mengungkap pelakunya.

Pembantu Dekan II FP MIPA, Santosa menjelaskan uang Rp 700 juta yang ada di brankas adalah uang kampus yang akan digunakan untuk berbagai macam pembayaran kegiatan selama 2009. Santosa tidak ingat dengan jelas kapan uang tersebut masuk ke brankas.

“Ini kan akhir tahun, jadi uang itu turun untuk digunakan sebagai honor dosen yang melakukan kegiatan ilmiah, perencanaan standarisasi internasional, pembuatan jurnal ilmiah dan agenda akademik lainnya,” kata Santosa.

Peristiwa yang sempat mengegerkan kampus UM ini, diketahui pertama kali oleh Heri S, petugas kebersihan gedung. Heri yang akan membersihkan gedung karena pagi itu akan ada acara pembekalaan mahasiswa PPL, menemukan pintu ruang di lantai satu rusak tercongkel.

Selanjutnya, Heri menghubungi Subarianto, petugas satpam yang malam itu mendapatkan giliran jaga malam dan juga kepada Suprianto, sekuriti lainnya. Keduanya kemudian melaporkan masalah ini ke Santosa. “Saya ditelepon mereka, kemudian saya ke sini,” kata Santosa.

Santosa menambahkan, Jumat atau sehari sebelum peristiwa ini diketahui, kegiatan di kantor FP MIPA berlangsung normal meski ada beberapa karyawan yang lembur hingga pukul 21.00 WIB. why

Sumber :
Surya