Oleh Dwi Erianto
Setelah disibukkan dengan pekerjaan atau aktivitas rutin sekolah, berwisata ke kebun raya pada akhir pekan merupakan salah satu pilihan menarik untuk menyegarkan hati, fisik, dan pikiran. Selain berekreasi, di tempat seperti ini pengunjung sekaligus dapat menambah ilmu pengetahuan tentang tumbuhan.
Dari empat kebun raya yang dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dua di antaranya berlokasi di Tatar Sunda. Kedua kebun raya itu adalah Kebun Raya Bogor (KRB) dan Kebun Raya Cibodas (KRC). KRB merupakan tempat koleksi berbagai tumbuhan tropis yang hidup di dataran rendah, sementara KRC adalah tempat koleksi tumbuhan tropis dataran tinggi.
KRC didirikan pada 11 April 1852 oleh JE Teysmann. Saat itu Teysmann adalah kurator KRB. Awalnya, Cibodas merupakan tempat aklimatisasi atau lokasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar bagi jenis-jenis tumbuhan asal luar negeri yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Pada perkembangannya, KRC menjadi bagian dari KRB, kemudian mandiri sebagai unit pelaksana teknis di bawah LIPI.
Kebun seluas 125 hektar ini berada di kaki Gunung Gede dan Pangrango. KRC yang berada pada ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut ini terkenal dengan hawanya yang sejuk dan kabut yang kerap menyelimuti saat fajar dan senja hari.
Kebun yang hingga kini sudah berusia 157 tahun ini kaya akan ribuan jenis tumbuhan tropis dataran tinggi. Koleksinya mencapai 6.180 spesies, yang dikelompokkan ke dalam 1.150 jenis, 580 marga, dan 189 keluarga. Selain kebun, terdapat pula taman tematik, seperti Taman Sakura, Taman Rhododendron, Taman Lumut, dan Taman Bunga Bangkai Raksasa. Terdapat pula koleksi tanaman yang dipamerkan dalam rumah kaca, seperti Taman Kaktus dan Anggrek.
Selain tumbuhan, KRC juga kaya dengan fauna, khususnya burung. Saat ini sudah terdeteksi 70 jenis burung yang sebagian besar termasuk jenis burung berkicau. KRC sudah memetakan lokasi-lokasi yang memudahkan pengunjung melihat burung, termasuk lokasi untuk melihat burung elang jawa yang hampir punah.

