Jumat, 19 Desember 2014

News / Regional

Inilah Penyakit Langka di Kaltim!

Kamis, 3 Desember 2009 | 16:05 WIB

BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Tedy Pariansyah (6), bocah dari keluarga transmigrasi di satuan pemukiman (SP) Suliliran, Kecamatan Pasir Balengkong, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur, Rabu (3/12), menjalani operasi biofsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan. Operasi ini untuk mengambil jaringan pada daging yang tumbuh di kuku tangan dan kaki yang tumbuh sejak umur satu tahun.

Tuti Andriani, Ketua tim dokter yang menangani Tedy Pariansyah, didampingi Direktur RSUD Kanujoso Djatiwibowo, HM Syafak Hanung, di Balikpapan mengatakan, operasi tersebut untuk mengetahui penyakit apa yang diderita anak pasangan Sumarno (56) dan Mardiana (54), warga transmigrasi yang bermukim sejak tahun 2005 tersebut.

Penyakit itu sementara disebut hiperkeratosis, yakni terjadi penebalan atau pengerasan kulit yang tidak normal pada kuku, telapak kaki, dan pantat. Bagian penebalan pada ke-20 kuku jari tangan dan kaki itu berkisar panjanganya tiga hingga lima sentimeter.

"Pada bagian kulit wajahnya terkelupas dan bibirnya pecah-pecah. Kami belum dapat mendiagnosa secara tepat penyakit apa yang diderita Tedy," katanya.

Menurut Tuti, sampel jaringan itu dikirim untuk pemeriksaan di laboraturium Fakultas Kedokteran Universitas Hasannuddin di Makasar, Sulawesi Selatan dan Laboraturium Kesehatan Surabaya, Jawa Timur. Hal ini untuk memastikan penyakit itu apakah akibat infeksi atau karena kelainan gen.

"Kami juga akan mengirim sampel untuk pemeriksaan kromosom di Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. Tetapi, biayanya cukup besar," kata dokter spesialis kulit dan kelamin tersebut.

Tuti juga menyatakan, penyakit yang diderita Tedy tidak sama dengan penyakit kutil yang diderita Dede Kuswara atau yang dikenal "Dede Manusia Akar" dari Desa Tanjungjaya, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Diagnosis dokter RS Hasan Sadikin Bandung, Dede menderita epidermodysplasia verruciformis, yaitu kelainan kulit ekstrem berupa tumbuhnya bintil dan bercak bersisik, terutama di tangan. Hal itu akibat infeksi Human Papilloma Virus dan kelainan sistem imunitas (Kompas,13/2/2009).

Penyakit Tedy sepertinya bukan kutil karena hanya tumbuh pada bagian kuku tangan dan kaki. "Ini penyakit langka dan baru pertama kali ditemukan di Kaltim. Saya juga sudah menjelajah di internet, namun belum menemukan adanya informasi mengenai penyakit serupa," ungkapnya.

Direktur RSUD Kanujoso Djatiwibowo, Syafak Hanung, mengatakan, Tedy masuk rumah sakit pada Minggu (20/11). Anak keempat dari pasangan Sumarno dan Mardiana, warga transmigrasi asal Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini adalah pasien rujukan dari RSUD Pangeran Sebaya, Tanahgrogot, Kabupaten Pasir. Tedy mulai menjalani perawatan di RSUD Kanujoso Djatiwibowo, hari Senin (30/11).

Penderitaan Tedy ini diketahui saat Bupati Pasir Ridwan Suwidi berkunjung ke lokasi pemukiman transmigrasi Pasir Balengkong. Ridwan kemudian meminta anak tersebut diperiksa kesehatannya. "Biaya sepenuhnya ditanggung Pemerintah Kabupaten Pasir karena keluarga Tedy termasuk keluarga tidak mampu," katanya.

Sumarno, ayah Tedy, mengatakan, penyakit yang diderita anaknya berlangsung sejak umur satu tahun. Saat itu masih bermukim di Kartasura, Jawa Tengah. "Tetapi, yang dia derita itu panas yang tinggi, mimisan, dan bibirnya seperti sariawan. Sudah macam-macam obat sariawan dicoba, tetapi nggak sembuh-sembuh. Bahkan, sudah pernah dibawa ke rumah sakit Panti Waluyo, Solo, Surakarta," katanya.

Menurut Sumarno, pertumbuhan penyakit itu mulai terjadi sejak bertransmigrasi di Kabupaten Pasir empat tahun lalu. Di sana, Tedy tidak pernah diobati. Untuk mengurangi bagian kuku yang menebal tersebut, biasanya tangan dan kaki Tedy direndam pada air hangat lebih dari satu jam, setelah kukunya agak lemah barulah dipotong. Tetapi, penyakit itu ternyata tumbuh terus.

"Kami tidak tahu lagi bagaimana harus menyembuhkannya. Kalau pada saya, kulit menebal seperti itu hanya ada pada jari kaki kiri pada kelingking saja," katanya.


Editor : made