Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:38 WIB
177 Tokoh Rekomendasikan Kearifan Lokal
| tof | Kamis, 3 Desember 2009 | 05:55 WIB
|
Share:

IWAN SETIYAWAN/HARIAN KOMPAS
Ilustrasi: Petani memiliki perhitungan sendiri berdasarkan kearifan lokal menyangkut waktu tanam sekaligus jenis tanaman yang cocok pada saat musim-musim tertentu. Selain itu, ada nilai kearifan lokal lain yang diterapkan oleh masyarakat Yogyakarta untuk melakukan pemulihan pasca gempa bumi pada Mei 2006 lalu.

TERKAIT:

MAKASSAR, KOMPAS.com - Sebanyak 177 tokoh—adat, budayawan, akademisi, dan tokoh dari 32 provinsi—yang mengikuti dialog Pemantapan Masyarakat Multikultural di Makassar, Sulawesi Selatan, 1-2 Desember, merekomendasikan pengedepanan nilai kearifan lokal untuk mencegah konflik horizontal.

Khusus dalam dialog yang berlangsung Rabu (2/12) kemarin, Menteri Sosial Salim Segaf Al’Jufrie meminta tokoh adat dan budayawan menjadi perekat bangsa di tengah keberagaman etnis di Indonesia dan tidak terjebak politik praktis yang memecah belah masyarakat.

Rekomendasi pengedepanan nilai kearifan lokal untuk mencegah konflik itu merupakan salah satu dari lima butir rekomendasi Pemantapan Masyarakat Multikultural. Pertemuan itu juga merekomendasikan pengajaran Pendidikan Moral Pancasila dan Budi Pekerti di semua jenjang pendidikan.

Rekomendasi lainnya adalah penguatan dan pelembagaan kearifan lokal oleh Departemen Sosial.

Sejarawan Anhar Gonggong di sela pertemuan mengingatkan, bangsa Indonesia saat ini menjejak jalan hidup tanpa nilai sehingga moralitas bangsa rusak. Ketiadaan internalisasi nilai kearifan lokal masing-masing etnitas bangsa menghasilkan pemimpin bangsa yang tidak tercerahkan, tidak memiliki visi kebangsaan.

”Indonesia menjadi ada karena para tokoh dari ratusan etnis di Indonesia tercerahkan sehingga memiliki kesadaran untuk menjadi Indonesia. Mereka orang-orang pandai. Namun, yang lebih penting, mereka itu tercerahkan. Mereka tercerahkan karena menginternalisasi kearifan lokal etnisnya masing-masing. Jika kini Indonesia tidak mau menggali kearifan lokal yang begitu beragam, Indonesia tidak memiliki pijakan,” kata Anhar kemarin.

Keterpurukan

Kondisi manusia Indonesia yang menjadi manusia tanpa nilai, menurut Anhar, telah mengakibatkan keterpurukan bangsa. Keterpurukan itu tidak lepas dari mentalitas materialistis yang subur ketika setiap entitas bangsa meninggalkan nilai kearifan lokalnya masing-masing.

”Setiap etnik harus menginternalisasi kembali kearifan lokalnya masing-masing. Kearifan lokal harus dikembangkan, bukan untuk kepentingan lokalitas, tetapi justru penting untuk membangun landasan keindonesiaan. Orang Bugis, misalnya, harus kembali kepada nilai siri’ na pesse (kehormatan/harga diri dan empati),” papar Anhar.

Hasil internalisasi kearifan lokal harus dikomunikasikan lintas etnik, diolah menjadi kearifan Indonesia. Harus ada internalisasi tiga nilai-nilai kearifan lokal, nilai keindonesiaan, dan globalisasi.

Menteri Sosial menyatakan, dialog keberagaman kearifan lokal yang multikultural tersebut penting bagi kelangsungan Indonesia sebagai sebuah negara.(row)

Sumber :
Kompas Cetak