TEGAL, KOMPAS.com - Ketersediaan es balok untuk memenuhi kebutuhan perbekalan nelayan di Kota Tegal masih kurang. Para nelayan terpaksa mengantre atau memesan selama beberapa hari, untuk mendapatkannya. Akibatnya, jadwal melaut mereka terhambat, sehingga nelayan kehilangan waktu bekerja selama beberapa hari.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal, Mahmud Efendi, Rabu (2/12) mengatakan, selama ini, es balok untuk nelayan dipasok oleh delapan perusahaan di Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Pemalang. Meskipun demikian, pasokan tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan nelayan.
"Padahal, es balok merupakan salah satu bekal utama untuk melaut, selain bahan bakar solar. Tanpa es, nelayan tidak bisa mengawetkan hasil tangkapan ikan. Pada akhirnya memang terpenuhi, tapi nelayan harus antre," ujarnya.
Bahkan dalam beberapa waktu terakhir, pasokan es balok sering tiba di pelabuhan pada malam hari. Akibatnya, nelayan juga kehilangan waktu istirahat mereka.
Mahmud mengatakan, selama ini rata-rata kebutuhan es balok untuk satu kapal jenis cantrang sekitar 30 ton sekali melaut, sedangkan untuk kapal purseseine sekitar 60 ton sekali melaut. Dengan jumlah kapal di Tegal sebanyak 540 kapal cantrang dan 100 kapal purseseine, kebutuhan es balok nelayan sekitar 22.200 ton per bulan.
Pabrik Es
Menurut dia, salah satu usaha mengatasi persoalan tersebut yaitu dengan membangun pabrik es di sekitar pelabuhan. Namun selama ini, upaya tersebut sulit terwujud, karena kualitas air di kawasan tersebut sangat jelek. "Airnya asin dan berwarna kuning," tambahnya.
Sumarno (40), salah seorang nelayan kapal cantrang di Tegal mengaku harus memesan selama dua hari hingga satu pekan, untuk bisa mendapatkan pasokan es balok. Nelayan juga harus menjadi pelanggan tetap pada salah satu perusahaan, agar bisa mendapat pasokan. "Kalau musim kemarau lebih parah lagi, karena air sulit. Nelayan saling berebut," kata dia.
Selama ini, ia membutuhkan sekitar 20 ton es, untuk melaut selama satu bulan. Harga es balok sekitar Rp 250.000 per ton. Akibat terlambat mendapat es, para anak buah kapal (ABK) kehilangan waktu bekerja dan penghasilan selama beberapa hari. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka terpaksa mengutang.
Wali Kota Tegal, Ikmal Jaya saat mengunjungi nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari Kota Tegal mengatakan, pemerintah akan mendirikan pabrik es di sekitar pelabuhan, untuk membantu nelayan. Saat ini, pihaknya akan meneliti dan mempelajari terlebih dahulu kemungkinan didirikannya pabrik es di kawasan tersebut. "Entah nanti dalam bentuk perusda atau kerja sama dengan pihak ketiga," ujarnya.
Diharapkan, pendirian pabrik es balok bisa terwujud pada tahun 2010. Selain memenuhi kekurangan es balok bagi nelayan, pendirian pabrik es di kawasan pelabuhan juga membantu menekan harga es balok.


