Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:38 WIB
Hentikan Diskriminasi terhadap Pengidap HIV/AIDS
| jimbon | Rabu, 2 Desember 2009 | 05:52 WIB
|
Share:

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pe r ku m p u l a n Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) serta berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap AIDS mengikuti pawai untuk memperingati Hari AIDS Sedunia di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (1/12). Pawai tersebut juga untuk mengingatkan masyarakat agar memberi perlakuan yang sama kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

TERKAIT:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Ratusan orang dari lembaga swadaya masyarakat dan pemerhati masalah HIV/AIDS di Yogyakarta, Selasa (1/12), berunjuk rasa meminta diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS segera dihilangkan. Mereka menilai diskriminasi di masyarakat masih cukup tinggi.

Menurut pengunjuk rasa, HIV/AIDS sama dengan penyakit lainnya sehingga tidak perlu ada pembedaan terhadap pengidap. Penyakit ini juga bisa menyerang semua orang, termasuk ibu rumah tangga baik-baik dan anak mereka. Diskriminasi tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah akan menambah beban pengidap.

”Mengapa terjadi diskriminasi? Karena masih kuatnya stereotip di masyarakat bahwa penyakit itu terjadi akibat perilaku menyimpang yang dilakukan orang-orang yang ’tidak baik’,” kata Istikomah dari Institut Hak Asasi Perempuan Yogyakarta, salah satu LSM yang ikut dalam aksi unjuk rasa.

Di Surabaya, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, pengidap AIDS di Jawa Timur paling banyak tertular lewat jarum suntik yang digunakan bersama oleh pemakai narkotik. Banyak pengidap yang masih dalam usia produktif.

Saifullah Yusuf mengatakan, pemberantasan penggunaan narkotik suntik menjadi prioritas. ”Pemprov menyediakan Rp 10 miliar untuk pencegahan penularan lewat jarum suntik,” kata Saifullah, saat meninjau pasien pengidap AIDS di RSU Dr Soetomo, Surabaya.

Pemprov Jatim juga mencatat, 42 persen pengidap saat ini ada di usia produktif mulai dari 20 tahun hingga 29 tahun. Hal itu berdampak pada produktivitas mereka.

Selain itu, sebagian masyarakat masih menjauhi pengidap HIV/AIDS. Akibatnya, pengidap tidak bisa bekerja lagi. ”Kemampuan mereka bagus, tetapi terhambat stigma,” ujarnya.

Pemprov Jatim juga mendorong rumah sakit kabupaten/kota ikut merawat pengidap HIV/AIDS. Hal itu untuk mendekatkan pusat perawatan dengan pengidap. ”Saat ini harapan hidup pengidap bisa diperpanjang asal rutin meminum obat. Bukan AIDS yang menyebabkan kematian, tetapi penyakit yang menyerang karena kekebalan tubuh pengidap menurun,” ujarnya.

Akses sosial dibuka

Di Malang, Jawa Timur, sekitar 100 aktivis peduli pengidap HIV/AIDS menuntut dihilangkannya stigma negatif atas orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta diberikannya akses sosial yang sama kepada mereka. ”Banyak ODHA meninggal justru karena tidak punya akses sosial atau dikucilkan dan didiskriminasi di semua hal. Meski kondisi fisik ODHA terus dijaga dengan obat-obatan, kalau kondisi mentalnya dilemahkan dengan pengucilan dan diskriminasi, sama saja pengobatan itu tidak ada gunanya,” kata Ketua Ikatan Waria Malang Merlyn Shopjan di tengah aksi memperingati Hari AIDS Sedunia di depan Balaikota Malang.

Peringatan Hari AIDS Sedunia juga dilakukan di kota-kota lain, seperti di Solo, Tegal, Banyumas, Bandung, dan Jakarta.(DIA/RAZ/WER/WIE/EKI/HAN/CHE/INE)

 

Sumber :
Kompas Cetak