MEDAN, KOMPAS.com - Calon pasangan perlu memeriksa kesehatan terkait bebas HIV sebelum memutuskan untuk melangsungkan pernikahan, upaya itu guna menghindari bayi yang dilahirkan, terinfeksi virus mematikan ini.
"Pasangan perlu memeriksa kesehatan guna mengetahui apakah salah satu di antara mereka, terjangkit virus HIV," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, di Medan, Selasa (1/12).
Penyebaran virus HIV kini sudah sangat mengkhawatirkan dan menghantui seluruh masyarakat, sehingga perlu tindakan pencegahan dan pemeriksaan sejak dini.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Sumatera Utara, Zahrin Piliang menambahkan, orangtua dan calon pasangan yang hendak menikah, hendaknya perlu memikirkan secara matang, apakah kehadiran seorang anak penting dalam kehidupan rumah tangga.
Memikirkan hal itu penting sebelum memutuskan untuk menikah, karena terkait masa depan anak yang akan lahir nantinya. Bila kehadiran anak sangat penting, maka orangtua harus menjaga komitmen itu saat anaknya lahir.
Terkait tes bebas HIV, Zahrin berpendapat, tanpa bermaksud mencurigai salah satu pasangan, bagi pasangan yang hendak menikah maupun telah menikah, perlu memeriksa kesehatan mereka.
Upaya itu penting dilakukan, agar memastikan apakah mereka bersih dari penyakit menular yang sering berasal dari hubungan seks bebas dengan beragam pasangan.
Bila salah satu pasangan ternyata terjangkit HIV, maka pasangan itu, harus disepakati mencari solusi bagaimana agar dapat melahirkan anak tanpa harus menularkan penyakit nista itu.
"Kalau salah satu pasangan terjangkit HIV, maka bila hendak mempunyai anak harus tempuh cara aman, seperti bayi tabung," katanya.
Menurut Zahrin, selama ini anak selalu menjadi sasaran kesalahan orangtua, bahkan, disalahkan bila melakukan kesalahan yang seharusnya menjadi tanggungjawab orangtua untuk mendidik dengan baik.
"Itu pentingnya memikirkan alasan kehadiran anak, apakah penting atau hanya korban pelampiasan nafsu libido orangtua saja," katanya menanggapi komitmen orangtua.
Data KPAID Sumut, pada tahun 2009, tercatat 3 anak terjangkit HIV akibat tertular dari orangtua, 57 orang tahun 2007 dan 33 anak pada 2006.

