JAKARTA, KOMPAS.com - Penularan HIV lewat hubungan seksual berisiko masih memprihatinkan. Akibatnya, perempuan dan anak menjadi kelompok yang ikut rentan tertular seiring meluasnya perilaku seksual berisiko tersebut. Sementara itu di Bali dilakukan mitigasi untuk anak korban HIV/AIDS.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat sekaligus Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Agung Laksono mengatakan, Senin (30/11), dari data Departemen Kesehatan, jumlah kumulatif kasus AIDS sampai dengan September 2009 sebanyak 18.442 kasus dan kumulatif pengidap infeksi HIV 28.260 kasus sehingga jumlah total orang dengan HIV/AIDS 46.702 jiwa.
Hal itu diungkapkannya dalam pembukaan Pekan Kondom Nasional 30 November-7 Desember 2009 dalam rangka Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember.
Sekitar 49 persen penularan HIV melalui hubungan seksual hetero. Angka tertinggi di Papua, lebih dari 90 persen. Setelah itu, diikuti penularan lewat jarum suntik di kalangan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (napza).
Sekretaris KPA Nasional Nafsiah Mboi mengatakan, hubungan seksual berisiko membuat kian rentannya kalangan populasi kunci. Populasi kunci adalah perempuan pekerja seksual, pelanggan perempuan pekerja seksual, waria, lelaki berhubungan seks dengan lelaki, dan pengguna napza suntik.
Departemen Kesehatan memperkirakan, ada sekitar 8,2 juta pria pelanggan seks, 231.000 pengguna napza jarum suntik, dan 233.000 perempuan pekerja seks. ”Tidak hanya populasi kunci yang rentan penularan HIV, tetapi juga pasangan seksual mereka. Infeksi di kalangan ibu rumah tangga yang tidak berganti-ganti pasangan juga meningkat. Jika sang ibu hamil, anak pun rawan tertular,” ujarnya.
Sementara, menurut survei tahun 2007, penggunaan kondom konsisten baru 35 persen di kalangan perempuan pekerja seks, pengguna jarum suntik 30 persen, dan yang terkecil pada pelanggan seks yakni 15 persen.
Plt Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Nelly Nangoy mengatakan, lingkungan sosial belum sepenuhnya mendukung penggunaan kondom. Persoalan lain ialah rendahnya kesadaran tentang pentingnya menggunakan kondom bagi kesehatan individu maupun pasangan. Juga, rendahnya pengetahuan remaja dan keluarga tentang cara penularan HIV. ”Belum lagi ada mitos-mitos seperti mudah bocor, mutu jelek, belum terbukti atau mengganggu hubungan seksual. Dengan perkembangan teknologi dan kontrol kualitas, mitos-mitos itu terpatahkan,” ujarnya.
Siapkan mitigasi anak
Sebagai bagian dari program kampanye penanggulangan HIV/ AIDS, KPA Provinsi Bali fokus pada program mitigasi pencegahan dan penularan HIV/AIDS.
Dua program utama adalah pendampingan anak pengidap HIV/AIDS dan anak yatim-piatu yang orangtuanya meninggal akibat HIV/AIDS, serta pendirian klinik konseling dan tes HIV/AIDS di seluruh puskesmas.
Koordinator Kelompok Kerja Humas dan Informasi KPA Provinsi Bali dr Mangku Karmaya menyatakan, program mitigasi terutama bagi anak-anak korban digelar sebagai pemenuhan kebutuhan hidup sekaligus menghindarkan mereka dari stigma dan diskriminasi.
”Jangan sampai mereka menjadi korban kedua kalinya,” kata Karmaya di Denpasar, kemarin. KPA Bali mengestimasi, pengidap penyakit itu hingga Agustus 2009 mencapai 3.047 orang, sekitar 47 persen berusia 20-29 tahun, dan dua persen berusia 15-20 tahun. (INE/BEN)


