ENDE, KOMPAS.com - Kawasan Nuabosi, Kecamatan Ende dan juga Detusoko di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur dipersiapkan untuk pengembangan cendana. Iklim di dua kawasan itu dinilai cocok untuk tanaman yang memiliki kekhasan wangi kayunya itu.
"Cendana akan bertumbuh baik di daerah kering, sejuk, dan terbuka, jadi cocok jika dikembangkan di kawasan Nuabosi dan Detusoko. Penanaman cendana yang dilakukan sekitar tahun 1980-an pun berhasil di dua kawasan itu," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende, Yohanes De Deo Dari, Minggu (29/11), di Ende.
Tanaman cendana di dalam kawasan hutan lindung Nuabosi, maupun Detusoko kini telah tumbuh di lahan sekitar 30 hektar (ha).
Menurut Yohanes, direncanakan tahun 2010 Pemkab Ende akan mendapatkan bantuan gratis sekitar 3.000 bibit cendana yang akan dibagikan kepada petani. Lokasi yang dipersiapkan di 2 kawasan tersebut.
Pembagian bibit cendana merupakan program Pengembangan Hutan Cendana Lestari dari Pemerintah Provinsi NTT. Gubernur NTT Frans Lebu Raya bertekad untuk mengembalikan citra NTT yang dulu dikenal sebagai penghasil cendana.
Kelangkaan cendana di NTT dimulai sejak tahun 1980 sampai 1990-an, akibat eksploitasi secara besar-besaran yang tidak dibarengi dengan penanaman kembali cendana secara seimbang dengan kegiatan eksploitasinya .
Secara terpisah Dekan Fakultas Pertanian Universitas Flores di Ende, Imakulata Fatima Pampe menyatakan, terkait mekanisme penyaluran program tersebut perlu dipertanyakan sejauh mana sasarannya.
Sebab untuk budidaya cendana tentu membutuhkan lahan. Jadi jangan sampai bibit cendana disalurkan kepada warga yang tidak memiliki cukup lahan. Dengan demikian perlu identifikasi secara cermat. Selain menyangkut daerah yang co cok untuk budidaya cendana, warga yang benar-benar mempunyai cukup lahan juga patut diperhatikan, kata Imakulata.