Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 22:11 WIB
Sultan: Batik Bukan Hanya untuk Baju dan Rok
| msh | Sabtu, 28 November 2009 | 18:06 WIB
|
Share:

Kris Razianto Mada/Kompas Cetak
Pengunjung mencoba membatik di sela-sela acara Smesco Festival 2009 di Balai Sidang Jakarta, Sabtu (17/10).

TERKAIT:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan kepada seluruh masayarakat Indonesia bahwa batik sebagai warisan budaya nonbenda yang sudah diakui UNESCO bukan semata-meta untuk baju dan rok. Kain batik, kata Sultan seharusnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lain seperti hiasan dinding atau cendera mata.

"Pengakuan dari UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia diharapkan dapat mempererat kebersamaan kita agar tantangan pengakuan itu mempunyai nilai yang betul-betul membawa semangat  di masa mendatang," kata Sultan ketika menerima kunjungan salah satu anggota tim UNESCO yang memperjuangkan batik Indonesia mendapatkan pengakuan dunia, Gaura Mancacaritadipura, di Gedhong Jene, Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sabtu (28/11).

Menurut Sultan, para disainer batik yang menciptakan motif batik, baik di Jawa maupun luar Jawa, memiliki tujuan yang sama, bahwa dalam pemberian desain batik mengandung filosofi serta mempunyai arti tertentu.

"Siapa pun yang mengenakan desain batik, itu sebagai pencerminan dan pemahaman tentang suatu tekad," katanya.

Selain bertemu Sultab, tim UNESCO datang ke DIY untuk melihat langsung upaya yang dilakukan Yogya, khususnya keraton, dalam melestarikan batik warisan budaya bangsa Indonesia.

Menurut Gaura, pengakuan internasional melalui UNESCO atas batik Indonesia sebagai warisan budaya bangsa hendaknya tidak selesai begitu saja, namun harus tetap dilestarikan oleh generasi mendatang, dan harus terus menerus dikembangkan, sehingga batik sebagai warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia tetap lestari.

"Setelah gempa, pengembangan batik di DIY sangat baik, bahkan telah dibangun museum batik, ada sekolah batik, dan masyarakat mulai kembali memproduksi batik," katanya.

Ia mengatakan, untuk pengembangan selanjutnya, modul-modul batik dimasukkan ke kurikulum di semua sekolah di wilayah DIY, sehingga para siswa mempunyai pemahaman batik sebagai warisan budaya bangsa dan menumbuhkan semangat untuk melestarikannya.

Pada kesempatan itu, Sultan memberikan cenderamata berupa miniatur mahkota raja kepada Gaura.

Usai bertemu Sultan, tim UNESCO selanjutnya mengunjungi museum batik di kompleks keraton. Mereka didampingi GBPH Prabukusumo dan pemerhati batik dari DIY, Suliantoro Sulaiman.

Sumber :
ANT