Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 08:01 WIB
Tinggi, Kebutuhan Media Digital di Kalangan Muda
Ingki Rinaldi | msh | Sabtu, 28 November 2009 | 17:00 WIB
|
Share:

KOMPAS.COM
Ilustrasi Media online

 

 

 

 

 

JOMBANG, KOMPAS.com- Pergeseran perilaku konsumsi masyarakat terhadap media massa yang kini mulai terfokus pada media digital semakin menggejala. Hal itu terutama banyak ditemukan pada konsumen media yang lahir di atas tahun 1980-an.

Fenomena itu setidaknya terbaca dalam Diklat Jurnalistik Pelajar dan Santri se-Jawa Timur yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur bekerjasama dengan Harian Kompas.

Pelatihan jurnalistik yang diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang 27-29 November itu terutama membahas soal elemen-elemen dasar dalam bidang jurnalisme.

Dalam pelatihan yang sebelumnya hanya direncanakan untuk memroduksi media cetak itu, ternyata ditemukan kebutuhan yang sangat besar di kalangan muda untuk menguasai pula elemen dasar dan teori praktis soal jurnalisme digital. Kebutuhan untuk memahami cara kerja new media ini demikian besar, karena sebagian besar adalah pengomsumsi media digital yang lahap dan mulai menjauhi media cetak untuk memenuhi kebutuhan informasinya.

Sejumlah peserta menyatakan, ada kesulitan untuk beroleh media cetak dalam waktu dan tempat tertentu, terkait jalur distribusi yang relatif terbatas. "Kalau media cetak sulit. Saya ingin berita-berita berbahasa Inggris, yang secara online lebih mudah ditemukan," kata Rofiq Al Azis peserta asal Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Akan tetapi, pelatihan jurnalistik yang kemudian ditambahi pula materi sekilas soal media baru tidak sepenuhnya memuaskan peserta yang seluruhnya merupakan generasi kelahiran di atas tahun 1980-an.

"Belum puas karena belum maksimal, penyerapan materi yang disampaikan sudah bagus tapi saya butuh pendalaman. Ini karena waktunya terlalu singkat," kata Zetik Mawada (18), seorang peserta asal Desa Kolomayan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar.