KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Grebeg Besar Tarik Perhatian Wisman
Sabtu, 28 November 2009 | 13:35 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Upacara tradisional Grebeg Besar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang digelar berkaitan dengan Idul Adha 1430 Hijriah, Sabtu (28/11), menarik perhatian sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang tengah berkunjung ke Kota Yogyakarta.

Mereka tampak dengan antusias mengikuti seluruh rangkaian proses upacara adat itu dan sesekali mengabadikannya dengan kamera foto maupun video. Kegiatan itu juga ditonton oleh warga Yogyakarta dan daerah sekitarnya meskipun berlangsung di bawah terik matahari.

Prosesi upacara tradisional grebeg besar berupa iring-iringan empat gunungan yaitu gunungan lanang (laki-laki), wadon (perempuan), gepak maupun pawuhan itu dikeluarkan dari dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melewati Siti Hinggil, Pagelaran, Alun-alun Utara hingga berakhir di halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta.

Gunungan yang dibuat dari bahan makanan seperti sayur-sayuran, kacang, cabai merah, telur, ubi dan beberapa pelengkap yang terbuat dari ketan dan dibentuk menyerupai gunung itu  yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan tanah Keraton Mataram.

Parade gunungan  yang dipimpin Manggoloyudho (panglima perang) GBPH Yudhaningrat itu disambut dengan tembakan salvo oleh para prajurit keraton ketika keluar dari dalam keraton dan melewati Alun-alun Utara.

Iringan gunungan tersebut dikawal oleh sembilan pasukan prajurit keraton, di antaranya prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, Nyutro. Mereka mengenakan seragam dan atribut aneka warna dan membawa senjata tombak, keris serta senapan kuno.

Selanjutnya sejumlah gunungan dibawa ke Masjid Agung/Besar Kauman Yogyakarta, untuk diberi doa oleh penghulu keraton. Kemudian gunungan itu menjadi rebutan oleh ratusan warga yang sudah sejak pagi menunggu di halaman masjid tersebut.

Warga yang memperoleh bagian gunungan tersebut masih mempercayai bahwa sedekah Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut akan membawa berkah bagi kehidupan mereka.
        
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selama setahun menyelenggarakan upacara tradisional grebeg sebanyak tiga kali yaitu Grebeg Syawal yang diselenggarakan bertepatan dengan idul fitri, Grebeg Besar bertepatan dengan idul adha dan Grebeg Maulud atau bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta Widi Utamingsih mengatakan upacara adat Grebeg yang diselenggarakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan kegiatan budaya yang masih manarik perhatian warga Yogyakarta maupun wisman.

Mestinya kegiatan adat tradisional tersebut dikemas menjadi paket wisata yang menarik sekaligus melestarikan budaya yang sampai kini masih menjadi  kehidupan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peristiwa budaya ini diharapkan menjadi tontonan menarik bagi wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara. Apalagi Keraton Ngayogyakarta Hadingrat menjadi bagian dari segitiga emas wisata Jateng-DIY untuk dikunjungi wisman.

Editor: acandra   |   Sumber : Ant Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.