Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 15:10 WIB
Dongkrak Produktivitas, Petani Butuh Jaminan
Aloysius Budi Kurniawan | acandra | Sabtu, 28 November 2009 | 08:33 WIB
|
Share:

MALANG, KOMPAS.com - Jaminan kepastian harga dan ketersediaan sarana produksi pertanian terbukti memberikan motivasi besar bagi petani untuk bercocok tanam.

Hal ini terbukti dari hasil positif produksi bibit jagung hibrida 10.000 ton selama tahun 2009 yang dihasilkan para petani di Jawa Timur. Bibit jagung hibrida unggul ini menjadi pasokan bibit bagi beberapa daerah, mulai dari provinsi-provinsi di Jawa, Sumatera, Kalimantan Barat dan Selatan, Sulawesi Selatan dan Gorontalo, hingga Nusa Tenggara Barat.

Sejak 15 tahun lalu, Senoen (71) Ketua Kelompok Tani Tirto Aji, Dusun Bandung, Kelurah an Karangkates, Kecamatan Sumber Pucung, Kabupaten Malang memutuskan diri untuk serius menanam indukan bibit jagung hibrida yang ditawarkan sebuah perusahaan.

"Saya beralih untuk menanam jagung hibrida karena ada jaminan harga yang pasti dari perusahaan. Jika jagung lokal harganya hanya Rp 800 per kilogram hingga Rp 1.100 per kilogram , harga jagung hibrida yang nantinya akan dijadikan sebagai bibit bisa mencapai Rp 2.900 per ki logram," tuturnya, Kamis akhir pekan lalu di Malang.

Pembudidayaan jagung hibrida tak hanya menjanjikan harga tapi juga volume produksi yang lebih besar dibandingkan produk jagung lokal. Produksi jagung lokal yang awalnya hanya mencapai di bawah enam ton per hektar, kini bisa terdongkrak menjadi enam ton hingga 10 ton tiap hektar.

"Dulu, setiap satu hektar paling saya hanya mendapatkan hasil Rp 10 juta, padahal biaya produksi penanaman hampir menyentuh Rp 10 juta juga. Dengan jaminan bibit dan harga yang jelas, kini setiap hektar saya bisa mendapatkan hasil antara Rp 17 juta hingga Rp 29 juta. A rtinya masih ada pendapatan yang bisa disisihkan," kata Senoen.

Butuh kepastian

Agar mendongkrak produktivitas petani, PT DuPont Agricultural Products Indonesia (PT DAPI) secara khusus memberikan pendampingan bagi para petani, mulai dari cara bercocok tanam, memberikan pinjaman bantuan dana produksi bagi petani, hingga berani membeli hasil produksi dari para petani.

"Karena ada kepastian harga yang jelas dan menjanjikan, sejak tahun 1998 lalu saya beralih untuk menanam jagung hibrida. Seharusnya pemerintah juga memberikan kepastian dan pendampingan yang jelas seperti ini pada petani," papar Juremi ( 58) salah seorang petani.

Manajer Produksi Benih Pioneer PT DAPI Priyandono Hadari mengatakan, di seluruh Jatim PT DAPI mendampingi sekitar 30.000 petani. Luas lahan yang digarap para petani untuk menghasilkan benih-benih unggul mencapai 10.000 hektar untuk benih jagung hibrida dan 1.000 hektar untuk padi.

Di sekitar Jatim dihasilkan bibit jagung hibrida sebanyak 10.000 ton dan bibit padi unggul 5.000 t on. Produk bibit tersebut mampu memenuhi kebutuhan baik lokal maupun luar negeri. Beberapa daerah yang mendapatkan pasokan bibit jagung dan padi PT DAPI adalah kawasan provinsi di Jawa, Sumatera, Kalimantan Barat dan Selatan, Sulawesi Selatan dan Goront alo, hingga Nusa Tenggara Barat. Sedangkan negara luar yang mendapatkan pasokan bibit dari PT DAPI adalah Filipina.

"Untuk mengantisipasi kenaikan permintaan bibit setelah musim panen, kami menaikkan produksi bibit indukan hingga dua kali lipat. Kami juga menyiapkan dua kamar pendingin raksasa yang mampu menyimpan sekitar 1.500 ton bibit jagung dan padi," kata Hadari.