PENSIUN, kesepian, menjadi tua, dan sakit-sakitan. Demikian bayangan menakutkan yang umumnya menghantui di masa senja. Tetapi, itu tidak berlaku bagi kelompok yang satu ini.
Pensiun dihabiskan dengan jalan-jalan, menambah teman, plesiran, tetapi tetap berusaha sehat. Masa-masa senja yang menyenangkan ini dialami pensiunan yang hobi bersepeda.
Herunoto (61) adalah salah satunya. Bagi pensiunan TNI AU dengan pangkat terakhir kapten ini, bersepeda bukanlah sekedar hobi, melainkan juga alat terapi penyakit jantung dan kadar gula tinggi yang dideritanya.
"Kalau lari, kan bisa buat stres. Sebab, rasanya itu dipaksakan. Sedangkan, sepeda justru menghilangkan stres. Banyak pemandangan yang dilihat, tempat-tempat indah yang bisa dituju bersama," ujar anggota Bandung Cycle Club (BCC) ini.
Dahulu, saat sakit parah, ketika kadar gulanya hingga angka 900, Herunoto sempat tidak mampu jalan. Namun, kini, ia bisa beraktivitas seperti biasanya dan rutin bersepeda sehari dua kali. Hal itu dilakukannya bersama-sama kawan sebayanya baik di kompleks Perumahan Cijerah maupun dengan anggota komunitas BCC dan lintas komunitas lainnya.
"Masa pakai sten (jantung) menurut dokter kan hanya lima tahun. Buktinya, oleh saya bisa lebih lima tahun. Ini berkat bersepeda rutin dan pola hidup sehat," tutur pria yang pernah operasi akibat serangan jantung tahun 2003 ini.
Menurut Ary Zarova (53), anggota BCC lainnya, hubungan yang akrab dan cair antar-anggota komunitas pesepeda dapat memberikan dorongan motivasi. Antar-anggota sering bertukar pengalaman mengenai isu kesehatan hingga tetek bengek soal sepeda.
"Yang sakit dan tua saja bisa melewati tanjakan lebih cepat. Hal-hal semacam ini tentu membuat kita termotivasi lebih," tutur pensiunan perusahaan asuransi ini. Menurut pelatih bela diri ini, bersepeda jauh lebih konkret untuk menjaga kebugaran dan kesehatan daripada aktivitas sejenis seperti senam osteoporosis.
Obat awet muda
Bagi Sumadi (73), bersepeda lebih dari itu. Bersepeda baginya adalah obat awet muda. Bayangkan, di usia setua ini, kakek tiga cucu ini sangat jarang sakit. "Ya, paling-paling sakit perut kalau abis makan yang pedes-pedes," ucap Sumadi terkekeh.
Anggota komunitas MM ini dikenal sebagai salah seorang pesepeda tua yang tangguh. Bayangkan, di usianya ini, dia asih sanggup bersepeda Bandung-Pangandaran tanpa henti. Dia pun pernah bersepeda hingga ke Bali juga keliling Pulau Sumatera.
"Melewati masa tua bagusnya memang seperti ini. Inilah pensiun dengan cara senang. Tidak pernah kesepian, selalu ada kegiatan. Daripada hanya di rumah, tidak ada kegiatan, tahu-tahu jadinya sakit," tutur Mochtar (71), pesepeda tua lainnya dari komunitas Jarambah.
Ketua Bandung Cycle Club (BCC) Iwan Ahmad mengatakan, berdasarkan pengalaman selama ini, tidaklah sedikit anggota komunitas pesepeda yang merasakan langsung manfaat kegiatan bersepeda, khususnya dari sisi kesehatan. Sepeda dijadikan alat terapi.
"Pernah, ada namanya Pak Toni yang sakit Vertigo. Dengan bersepeda rutin, dia langsung sembuh," ucapnya.
Dan, tidak hanya itu, diakuinya, bersepeda rutin bahkan menambah keperkasaan pria. Gairah seksual semakin meningkat dengan bersepeda rutin. Wah...! (Yulvianus Harjono)


