Kamis, 24 April 2014

News / Regional

Kalpataru, Kembalikan Saja!

Jumat, 27 November 2009 | 23:32 WIB

Baca juga

PEKANBARU, KOMPAS.com - Patih Laman, tokoh masyarakat suku asli Talang Mamak, penerima Kalpataru pada 2003 berniat mengembalikan penghargaan lingkungan hidup itu. Pasalnya, dia kecewa hutan adat yang telah dijaganya ditebang habis dan tidak ada kepedulian pemerintah mempertahankannya.
   
"Kawasan hutan itu telah diperjualbelikan. Mengadu ke camat dan Dinas Kehutanan tidak ada tanggapan. Saya ingin ke Jakarta untuk  mengembalikan Kalpataru," ujar Laman di Rengat, Jumat (27/11).
   
Pada 5 Juni 2003 Laman memperoleh penghargaan Kalpataru dari pemerintah sebagai Perintis Lingkungan karena dinilai gigih menjaga penyelamatan hutan adat Talang Mamak yakni hutan  Panguanan dan Panyabungan  dan hutan Sungai Tunu seluas hampir 20.000 hektare.
   
Kawasan hutan yang dipertahankan Laman dari penjarahan dan jual beli ke perusahaan itu kini telah berupa hamparan tanah kosong, karena kawasan hutan tersebut telah ditebang habis baik oleh masyarakat pendatang maupun perusahaan yang mendapat izin dari pemerintah.
   
Hilangnya kawasan hutan itu menyebabkan Laman jatuh sakit karena hutan adat tersebut selama ini dipertahankannya. Masyarakat Talang Mamak hidup bergantung dari hasil hutan tersebut. "Pak Laman sangat kecewa menghadapi kenyataan bahwa kawasan hutan yang dijaganya itu kini telah gundul. Dia tak dapat berbuat apa-apa meskipun telah membawa kasus tersebut ke pemerintah tapi tidak ada tanggapan," ujar Ameng, salah seorang terdekat Laman.
    
Menurut  dia, hutan adat Sungai Tinu yang luasnya 10.000 hektare lebih kini telah berubah jadi kebun sawit milik perusahaan swasta sedangkan hutan Panguanan dan Panyabungan seluas 1.800 hektare dirambah masyarakat pendatang dan kini hanya tinggal sekitar 4 hektare.  
    
Ia mengatakan, hutan adat Panguanan dan Panyabungan berada dalam satu hamparan di dua desa  yakni Desa Sungai Ekok, Kecamatan Rakit Kulim dan Desa Durian Cacar, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu.
    
Bagian hutan adat itu di desa tetangga habis dijualbelikan oleh oknum desa dan sisa hutan empat hektare masih dipertahankan Laman bahkan ia menunggui kawasan tersebut dengan membuat pondok. "Ia bangun sendiri pondok dan menunggu hutan yang tersisa itu, bahkan ia tinggal di kawasan hutan itu," ujar Ameng.
    
Dia mengatakan, akibat sangat risau dengan kondisi hutan tersebut berdampak pula terhadap kondisi Laman yang telah berusia hampir 80 tahun. "Sampai manalah kemampuan Pak Laman memperjuangkannya. Suaranya tidak didengar pemerintah  dan itu sebabnya ia ingin mengembalikan penghargaan yang telah diperolehnya dari pemerintah," ungkap Ameng.
   
Patih Laman dikenal sebagai pemimpin masyarakat Talang Mamak. Perjuangannya mempertahankan hutan di lingkungan tempat tinggal Talang Mamak tidak hanya memberikannya penghargaan Kalpataru dari pemerintah RI tetapi juga badan konservasi internasional melalui penghargaan  WWF International Award for Conservation Merit 1999.                            

 


Editor : primus
Sumber: