Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 22:06 WIB
Perajin Batik Giriloyo Kesulitan Minah
Taufiq Zuhdi | tof | Jumat, 27 November 2009 | 21:37 WIB
|
Share:

KOMPAS/AUFRIDA WISMI WARASTRI
Puluhan ibu membawa lebih dari seratus jeriken mengantre untuk mendapatkan minyak tanah di pangkalan minyak tanah Kaseri, Jalan Setia Budi Pasar 1, Tanjungsari, Medan, Jumat (20/11). Minyak tanah yang masih dibutuhkan keluarga-keluarga di Medan semakin langka pascaprogram konversi gas berlangsung di Kota Medan. Banyak ibu mengaku belum mendapatkan tabung gas gratis.

TERKAIT:

BANTUL, KOMPAS.com - Para perajin batik tulis di Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengeluhkan mahalnya harga minyak tanah (minah) setelah pencabutan subsidi.
      
"Di wilayah Giriloyo Imogiri harga minyak tanah nonsubsidi mencapai Rp 8.000-Rp 10.000/liter dan  belum tentu ada. Rata-rata tiap hari seorang perajin memerlukan setengah liter minyak tanah sebagai bahan bakar kompor untuk memasak bahan baku lilin," ketua Nur Ahmadi, Ketua Paguyuban Perajin Batik tulis Giriloyo, Jumat.

Ia mengatakan saat ini di sentra kerajinan batik tulis Giriloyo tercatat 600 perajin. Jika tiap perajin membutuhkan setengah liter minyak tanah tiap hari berarti harus tersedia 300 liter minyak tanah per hari. Padahal setelah subsidi dicabut, perajin Giriloyo makin kesulitan mendapatkan minyak tanah.

"Keluhan perajin ini sudah kami sampaikan kepada Disperindagkop Kabupaten Bantul dan meminta solusi apakah dengan memberikan pelatihan penggunaan energi alternatif untuk menunjang proses produksi misalnya biogas atau serbuk kayu gergajian," katanya.

Sekarang sebagian perajin  mulai beralih menggunakan kayu untuk bahan bakar memasak lilin yang digunakan dalam proses membatik. "Mereka menggunakan bahan kayu bakar karena kesulitan memperoleh minyak tanah. Jika ada harganya sudah mahal, sehingga tidak terjangkau para perajin," katanya.  
    
Ia mengatakan mereka  mulai membiasakan diri tidak menggunakan minyak tanah dengan berganti menggunakan kayu bakar. Padahal, menggunakan kayu bakar untuk memanasi lilin sangat tidak efektif karena panas dari bara api kayu bakar tidak  konstan, bahkan sering memercikan  api yang bisa mengenai kain saat proses membatik.

Percikan dari bara kayu bakar bisa melubangi kain batik dan perajin  akan menderita kerugian jika kain batik  rusak. Namun, minyak tanah maha dan sulit diperoleh, perajin terpaksa menggunakan kayu bakar.

Sumber :
ANT