KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Sulit Memotong Siklus Hidup Cacing
Jumat, 27 November 2009 | 19:22 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Ditemukannya hewan kurban mengandung cacing hati berulang kembali, termasuk di Yogyakarta. Kejadian seperti ini cukup sulit terhindarkan, kecuali peternak mengubah perilaku pemeliharaan.

Ternak yang dipelihara di dataran rendah dan basah lebih rentan terhadap cacing hati dibanding dataran tinggi yang kering. Di tempat yang kering, seperti Gunung Kidul, siklus hidup cacing hati terputus oleh keterbatasan air.

Mengubah perilaku pemeliharaan secara sehat yang dimaksud ialah tidak memberi ternak rumput dalam kondisi basah atau menggembala ternak di pagi hari. Larva cacing hati (Vasciola Hepatica) mudah menempel di air atau rerumputan yang basah. Sebelumnya, telur cacing berkembang dari fase mirasidium menjadi serkaria di dalam tubuh inang siput air tawar.

Munaryoto Seksi Bina Usaha dan Budidaya Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta mengungkapkan dari delapan tempat pemotongan hewan kurban di Kecamatan Mantrijeron yang diperiksa, Jumat (27/11), cacing hati di temukan di dua titik.

"Bagian yang terkena cacing harus dikubur, meski jika dimasak cacingnya mati. Kalau dipaksakan memasak, rasanya tidak enak, seperti ada pasir di bagian yang terkena cacing (bungkul)," ujar Sunaryoto. Mendeteksi ternak yang terkena serangan cacing agak susah. Jika kerusakan hati yang terserang di atas 60 persen, ternak kelihatan kurus dan bulunya kasar.

Cacing hati sendiri bisa diobati. Peternak atau pedagang diimbau untuk memeriksakan kesehatan ternaknya ke pos hewan. Pada hari biasa Disperindahkoptan sering melakukan pemeriksaan terhadap ternak. Begitu pula menjelang Idul Adha. Hanya saja, jumlah ternak serta frekuensi masuknya ternak dari luar daerah yang melonjak menjadi kendala.

Tiga dokter

Sementara itu proses pemotongan hewan kurban di Masjid Jogokaryan selalu dalam pengawasan dokter yang kebetulan jamaah setempat. Dengan demikian, sejak proses pemotongan hingga pembagian, kondisi daging terus terjaga. Tahun ini Masjid Jogokaryan memotong 26 sapi dan 31 kambing. Mereka juga mengirim kambing kurban ke Padang, Sumatera Barat sebanyak 33 ekor.

"Sejauh ini tidak ada yang bermasalah, termasuk kondisi hewan kurban yang kami potong. Kami didampingi tiga dokter hewan dan satu mantra hewan," ujar Anjang Bendahara Panitia Kurban Masjid Jogokaryan.

Penulis: WER   |   Editor: made Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.