
KARAWANG, KOMPAS.com - Sekitar 15.000 hektare sawah di sejumlah kecamatan sekitar Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terancam banjir setelah hujan mengguyur wilayah tersebut sejak beberapa pekan terakhir.
"Banjir yang sering terjadi di Karawang tergantung curah hujan. Jika curah hujannya tinggi, sawah yang terkena banjir akan meluas. Tapi tahun lalu, areal persawahan yang terkena banjir seluas sekitar 15.000 hektare," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Karawang, Nachrowi M Nur, Kamis (26/11).
Jika curah hujannya tinggi maka areal persawahan yang terkena banjir bisa melebihi 15.000 hektare sawah. Rata-rata banjir yang cukup parah terjadi di beberapa daerah sekitar wilayah utara Karawang, dan baru meluas ke daerah lain, jika curah hujannya terlalu tinggi.
Areal persawahan di Karawang yang terancam banjir atau selalu terkena banjir setiap musim hujan ialah areal persawahan yang berada di Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Tirtajaya, Cibuaya, Rengasdengklok, Jayakerta, Pedes, Tempuran, Cilamaya Kulon, Cilamaya Wetan, Karawang Barat, dan Telukjambe.
Nachrowi mengimbau para petani agar tidak melakukan penanaman pada saat puncak musim hujan, yakni mulai dari Desember, Januari hingga Februari.
Hal tersebut dilakukan sebagai usaha untuk memperkecil kerugian yang dialami para petani akibat banjir.
"Walaupun tidak diimbau, kami percaya para petani di daerah-daerah yang sering terkena banjir memiliki naluri untuk tidak menanam pada puncak musim hujan," kata Nachrowi.
Ia mengaku selalu ada kerugian dari sektor pertanian karena areal persawahan yang sudah ditanami para petani terendam banjir.
"Sebenarnya petani selalu waspada saat melakukan penanaman pada musim hujan, tapi karena sulit memprediksi puncak musim hujan, selalu ada saja petani yang tanamannya terendam banjir," katanya.
Jika saat banjir tidak ada petani yang melakukan penanaman, kerugian akibat banjir tidak akan terjadi. Dengan demikian, produksi padi pun tidak terganggu dan hanya mengalami keterlambatan masa panen.