Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 12:51 WIB
Siswa Ini Sering Kesurupan dan Senang Bawa Senjata Tajam
| Abi | Kamis, 26 November 2009 | 14:43 WIB
|
Share:

KOMPAS.COM/IGNATIUS SAWABI
ilustrasi

MATARAM, KOMPAS.com — Salah seorang siswa SMA Negeri 4 Mataram, Nusa Tenggara Barat, berinisial BM, yang duduk di kelas X, terancam dikeluarkan dari sekolah karena sering membuat resah para guru dan murid akibat membawa senjata tajam.
     
"Kami sudah mendapat laporan dari Kepala SMA Negeri 4 Mataram kalau siswa tersebut beberapa kali mengancam gurunya dengan senjata tajam," kata Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Dikpora Kota Mataram H Aminullah Diradji, Kamis (26/11) di Mataram.
     
Ia mengatakan, pihak SMA Negeri 4 tidak langsung memecat siswa tersebut, tetapi masih berusaha memperbaiki perilaku siswa itu dengan memberikan pembinaan dan pengarahan melalui guru Bimbingan Kesiswaan (BK).
     
Selain itu, masalah tersebut telah dikonsultasikan dengan cara melaporkan secara lisan kepada Kepala Dinas Dikpora Mataram untuk mendapatkan solusi yang tepat dalam mengatasi masalah tersebut.
     
"Masalah ini memang sudah seharusnya dikonsultasikan sehingga kepala sekolah tidak serta-merta mengambil keputusan sepihak," ujarnya.

Ia mengatakan, berdasarkan laporan secara lisan yang diterimanya, siswa tersebut sering mengalami kesurupan seperti orang yang memiliki kelainan dan beberapa kali mengancam guru dengan senjata tajam. Bahkan, menurut informasi, siswa dengan inisial BM itu diduga menjadi pemakai obat-obatan terlarang sehingga pihak sekolah merasa khawatir, ia akan mempengaruhi siswa lainnya.
     
Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Diradji mengatakan bahwa pihaknya menyarankan kepada Kepala SMA Negeri 4 Mataram agar siswa tersebut untuk sementara diberikan kesempatan berobat dan memperbaiki pola perilaku hidupnya.
     
"Kami tidak akan mengeluarkannya, tetapi kami beri dia kesempatan untuk memperbaiki diri. Kalau dinilai sudah berperilaku normal seperti siswa lainnya, dia boleh melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 4 Mataram," ujarnya.
     
Menurut dia, kebijakan untuk tidak mengeluarkan siswa yang bermasalah tanpa melalui usaha pembinaan bertentangan dengan visi dan misi Pemerintah Kota Mataram yang sudah mencanangkan Gerakan Wajib Belajar 12 Tahun.
     
"Anak-anak di Kota Mataram, semua harus lulus sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Untuk itu, kita harus bisa memberikan solusi terbaik bagi siswa yang dinilai bermasalah. Jangan asal main pecat," kata Diradji.
     
Sementara itu, orangtua BM, Ahmad Saifuddin, sangat keberatan dengan kebijakan pemerintah yang tidak mengizinkan anaknya mengikuti pelajaran secara rutin sebagaimana mestinya.
     
"Anak saya normal. Lihat saja hari ini, saya suruh dia masuk sekolah, ternyata tidak terjadi apa-apa di sekolah. Saya berharap pemerintah dan pihak sekolah betul-betul memberikan kesempatan kepada anak saya untuk belajar," ujarnya.

Sumber :
ANT