PELAIHARI, KOMPAS.com — Lagi-lagi akses menuju Desa Pantaiharapan terganggu. Air pasang kembali meluapi jalan utama menuju desa terpencil di wilayah Kecamatan Bumimakmur tersebut. Jembatan setempat pun makin ambles kontruksinya.
"Dua jembatan menuju desa kami kini posisinya hampir sejajar dengan permukaan jalan. Sudah sangat turun, ambles, akibat keseringan terendam air. Makin sulit dan rawan dilewati, terutama jembatan pertama yang dari arah Desa Sungairasau," kata Sekdes Pantaiharapan Amir Mahmud, Rabu (25/11).
Tiap bulan selama sepekan jalan dan jembatan menuju kampung nelayan tersebut selalu kebanjiran saat pasang besar air laut. Badan jalan sejauh 3 kilometer dari perbatasan Desa Sungairasau menuju Pantaiharapan pun makin rusak, termasuk kedua jembatan yang ada.
Kanan kiri jembatan runtuh sehingga warga setempat mesti memajang kayu darurat agar kendaraan bisa melintas. Mobil tak bisa lewat, kecuali yang berbodi kecil, seperti pikap.
Beruntung pasang besar air laut saat ini, kata Amir, terjadi pada malam hari sehingga aktivitas warga dan belajar-mengajar di SDN setempat masih berjalan normal.
Hanya, warga ataupun anak sekolah/guru mesti rela celananya kotor terbalut lumpur saat melintasi badan jalan yang becek dan sebagian masih terendam air.
SMP terdekat berada di Desa Sungairasau yang berjarak 3 kilometer. Sementara itu, guru SDN Pantaiharapan umumnya berdomisili di Kuraupasar (ibu kota Kecamatan Kurau). Beberapa bulan lalu, saat pasang besar terjadi pada siang, aktivitas belajar-mengajar di SDN Pantaiharapan sempat terhenti selama beberapa hari akibat gurunya tidak bisa menjangkau sekolah lantaran jalan terendam air hingga 1 meter.
Saat ini, kata Amir, luapan air laut mulai menyusut. Puncaknya terjadi pada Sabtu (21/11). Dua jembatan yang ada sama sekali tak kelihatan karena terendam air laut hingga kedalaman 1 meter.
(roy)