
KOMPAS.com - ”Ini seperti film Titanic saja. Hanya saja kami selamat, laki-lakinya tidak mati,” ujar Dede Kairani (23), calon mempelai perempuan yang batal menikah. Rabu ini seharusnya menjadi hari bahagia bagi Dede dan calon suaminya, Agus Firman (26). Mereka berencana melangsungkan perkawinan di rumah keluarga Dede di Desa Perjuangan, Teluk Nibung, Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Bersama calon ibu mertua Dede, Ny Ernawati (50), dan nenek Agus, Ny Ratna Juwita (70), mereka menumpang kapal Dumai Express 10 dari Batam menuju Dumai. Rencananya, dari Dumai, mereka akan melakukan perjalanan darat ke rumah orangtua Dede. Namun, rencana itu kandas, sama dengan kapal yang mereka tumpangi—kandas setelah sekitar satu setengah jam melaju di tengah ombak. Dede, Agus, dan Ny Ernawati selamat setelah beberapa jam terombang-ambing dalam ombak perairan Tanjung Balai Karimun. Namun, Ny Ratna Juwita hingga kemarin belum ditemukan. ”Kami belum tahu kapan pernikahan akan dilangsungkan kembali karena ibu belum ketemu,” tutur Ny Ernawati. Semua bagasi yang isinya aneka rupa perlengkapan perkawinan, termasuk baju perkawinan, pun tenggelam. Ditemui di kamar 203 Hotel Artha, Tanjung Balai Karimun, keluarga yang baru berkumpul kembali itu bertutur masih akan menunggu di Karimun hingga nenek mereka ditemukan. Dede mengatakan, keluarga di Teluk Nibung pun maklum akan kejadian ini. ”Kata mereka, yang penting kami selamat,” ujarnya. Kapal Dumai Express 10 diketahui mengalami kecelakaan hari Minggu lalu sekitar pukul 09.30 pada koordinat 01.12.50 Lintang Utara-103.20.30 Bujur Timur. Pos TNI AL di Takon Hiu, sebuah pulau terluar Indonesia, mencatat kapal tenggelam sekitar pukul 10.10. Lambung kapal yang terbuat dari fiber berbobot 174 ton di sisi kiri robek karena diterjang gelombang setinggi 4-5 meter. ”Saya terlempar dari kapal. Untung saya pandai berenang. Saya cari Agus yang tergulung ombak, saya raih bajunya. Saat kami timbul ke atas air, kapal kami sudah berjarak sekitar Ny Ernawati, yang sempat dirawat di RSUD Tanjung Balai Karimun, mengatakan, saat kejadian, dia duduk di tempat duduk penumpang lantai satu bagian depan. Air sudah setinggi kaki. Ia sempat mengalungkan jaket pelampung ke ibunya. ”Anak lelaki saya menendang pintu kapal hingga pecah. Tetapi tiba-tiba gelombang datang lagi dan saya terlempar dari kapal,” tutur Ny Ernawati. Saat kapal masih melaju, penumpang sebenarnya sempat meminta agar kapten kapal membawa kapal kembali ke Batam atau merapat ke pulau terdekat karena ombak tinggi. Namun, kapal jalan terus dengan penumpang penuh. Begitu terlempar, Ny Ernawati menemukan kursi dan bersandar pada kursi itu. ”Saya tahu harus bersandar pada sesuatu karena nonton film Titanic,” kata Ny Ernawati. Seorang bapak juga turut bersandar pada kursi itu. Keselamatan itu datang setelah hampir tiga jam ia diempas gelombang. ”Ada dua mayat melintas di samping saya,” kata Ny Ernawati. Anehnya, kata Ny Ernawati, suasana selama ia terombang-ambing di laut cerah meskipun gelombang sangat tinggi, mencapai 5 meter. Langit sangat biru dan matahari bersinar terang. Penderitaan itu berakhir ketika kapal Buanamas Permai menyelamatkan dirinya meskipun ia dan keluarganya hingga kini masih resah karena belum tahu keberadaan Ny Ratna Juwita. Tak tahu keberadaan dan nasib keluarganya juga dialami banyak keluarga lain. Suwanto (30) seharian kemarin mondar- mandir dari Pelabuhan Karimun ke RSUD Karimun dan ke posko di rumah dinas Bupati Karimun. Suwanto kehilangan empat kerabatnya, yakni Poniman (30), Supriyadi alias Pijai (28), istri Supriyadi, yakni Mulyani (28), dan anak perempuan pasangan Supriyadi-Mulyani yang masih berumur empat bulan. Demikian pula dengan Hermanto (40). Ia kehilangan istrinya, Sri Yanti (37), serta tiga anaknya, Ronal Alfitra (11), Putri Hariyanti (9), dan Aisyah Heriyanto (2,5). Pemilik kapal Dumai Express, Hartono, pun menjadi korban. Sejauh ini Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun masih meneliti penyebab kecelakaan. Komandan Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun Letkol (P) Edwin mengakui, kesulitan utama proses evakuasi korban adalah data penumpang yang hingga kini simpang siur. Manifes kapal menunjukkan penumpang 213 orang, padahal korban yang ditemukan selamat saja sudah 255 orang. Yang meninggal 27 orang dan hilang 25 orang. Padahal, kapasitas kapal cuma 260 tempat duduk. Tampaknya data yang simpang siur menjadi masalah klasik kecelakaan laut di Indonesia. Orang tak pernah belajar dari pengalaman lama.