Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 04:16 WIB
Dua Minggu Menikah, Suami Masuk Bui
Taufiq Zuhdi | tof | Rabu, 25 November 2009 | 01:54 WIB
|
Share:

ilustrasi

PALEMBANG, KOMPAS.com - "KALAU tahu bakal ditangkap polisi saya mungkin tak menikah dulu. Kasihan istri saya, baru saja menikah sudah saya tinggalkan," keluh Bambang (30) sambil meremas jari yang kukunya masih berinai. Baru dua minggu ia menikah, namun Selasa (24/11) dini hari, anggota Polsekta SU I Palembang mecokok Bambang dari rumah mertuanya di Kecamatan Gandus Palembang. Bambang adalah buronan yang membunuh Sobri (40) tahun 2007 silam.

"Istri saya sedang sakit waktu saya ditangkap polisi, mungkin dia (istrinya,red) sudah hamil muda. Saya tak mengapa, tapi kasihan istri saya," kata Bambang hampir terisak. Bambang tak melawan saat ditangkap polisi. Ia pasrah.

Bambang membunuh Sobri karena dendam. "harga diri saya jatuh saat dia menampar pipi saya," katanya. Bambang ditampar Sobri pada suatu siang pertengahan Juli tahun 2007. Waktu itu Bambang yang sedang mengayuh becaknya tak sengaja menyerempet motor Sobri yang berprofesi sebagai penarik ojek. Sobri yang tak terima menampar wajah Bambang. "Waktu itu saya tak melawan, tapi rasanya hati ini sakit nian," kisahnya.

Tiga bulan setelah tamparan itu, di satu malam 28 Oktober 2007, secara tak sengaja Bambang melihat Sobri. Malam itu sedang digelar acara orgen tungen tunggal di dekat rumah Bambang, lorong Keramat 5 Ulu Palembang. "Saya mabuk waktu itu, melihat dia emosi saya langsung tinggi," katanya. Bambang mengambil pisau garpunya. Mendatangi korban dan tanpa basa basi menyarangkan tiga tusukan ke dada Sobri. Sobri pun tewas seketika itu juga. Namun hasil visum menyebutkan Sobri mendapatkan enam luka tusuk. "Cuma tiga kali tusukan dan tak ada yang membantu saya waktu itu, entahlah," katanya.

Malam usai membunuh Bambang pun langsung melarikan diri. Sehari menginap di rumah kakanya di Lemabang ia pun menumpang kereta api ke Tulangbawang, Lampung. Enam bulan disana, berjualan pempek, ia pun pergi ke Tangerang menjadi pekerja cucian mobil selama enam bulan lagi. Penghasilan tak layak, ia lalu ke Muaraenim, jadi buruh pertanian selama sembilan bulan. "Saya kira polisi sudah tak mengejar saya lagi, makanya saya pulang ke Palembang," katanya.

Di Palembang ini, ia pun menemukan pujaan hati dan mempersunting perempuan itu. Namun rupanya gelaran pesta pernikahannya malah membuat keluarga korban jadi tahu keberadaannya yang sudah pulang ke Palembang. Warga lalu menghubungi polisi. "Padahal saya nikah tidak pesta besar-besaran, tapi memang banyak keluarga korban yang tahu," katanya. Bambang hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasibnya yang bakal dipenjara dalam waktu lama. "Mudah-mudahan dia (istrinya, red) setia menunggu saya, tapi kalau pun dia tak tahan juga tak apa," katanya.

"Keberadaan buronan ini kita dapatkan dari informasi masyarakat," kata Kanit Reskrim Polsekta SU I. Saat ini polisi masih melakukan penyidikan atas kasus ini. "Ada enam luka tuskan tapi tersangka cuma mengaku menusuk tiga kali, kita masih menyelidiki dugaan keterlibatan orang lain," katanya.

Prawira Maulana

Sumber :
Sriwijaya Post