KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Tim Kesehatan Temukan Tiga Kambing Sakit
Selasa, 24 November 2009 | 21:23 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Tim kesehatan hewan di Dinas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Bandar Lampung menemukan tiga ekor kambing sakit pada perdagangan hewan kurban. Tim merekomendasikan pedagang untuk tidak memperdagangkan hewan sakit.

Sri Suharyati, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan (Distannakhut) Bandar Lampung, Selasa (24/11) saat pemeriksaan kesehatan hewan kurban mengatakan, tiga ekor kambing sakit ditemukan di pusat perdagangan kambing kurban di Palapa, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Tiga kambing kurban tersebut diketahui mengalami flu dan mencret. Diduga kambing sakit karena stres.

"Untuk itu, kami merekomendasikan pedagang untuk tidak memperdagangkan kambing-kambing yang sakit supaya konsumen juga mendapatkan hewan yang sehat," ujar Sri Suharyati.

Ujang, pedagang kambing kurban di Palapa, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung mengatakan, ia akan mengikuti usulan tim kesehatan hewan tersebut. Ia menemukan kambing sakit akibat perpindahan lokasi dari peternakan di Gisting, Tanggamus ke Bandar Lampung.

Untuk menghadapi Idul Kurban, Ujang mendatangkan 10 ekor kambing dari Gisting, Tanggamus ke Bandar Lampung. Ia sudah menjual kambing-kambing kurban sejak lima tahun terakhir.

Lebih lanjut Sri Suharyati mengatakan, selain temuan flu dan mencret pada kambing, tim kesehatan hewan tidak menemukan adanya sapi yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) ataupun antrax. "Bandar Lampung bebas dari penyakit itu," ujar Sri Suharyati.

Untuk pengecekan kesehatan hewan kurban, tim kesehatan dari Distannakhut diterjunkan di 13 kecamatan di Bandar Lampung. Diperkirakan ada sekitar 1520 titik perdagangan hewan kurban di Bandar Lampung.

Sebanyak 28 personel anggota tim kesehatan hewan dibantu 12 dokter hewan dari Dinas Peternakan Lampung mengecek kesehatan hewan untuk kurban. Tim sudah bekerja sejak Selasa (24/11) sampai dengan Sabtu (28/11).

Tim melakukan pengecekan sebelum pemotongan dan sesudah pemotongan. Sebelum pemotongan tim mengecek kondisi fisik dan kesehatan hewan. Pasca pemotongan, tim kesehatan akan mengecek organ dalam hewan, apakah masih layak dikonsumsi atau tidak.

"Kami harus yakin, daging sapi dan kambing yang dikonsumsi masyarakat aman, segar, utuh, dan higienis," ujar Si Suharyati.

Penulis: HLN   |   Editor: made Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.