Kamis, 28 Agustus 2014

News / Regional

Jembatan Layang Dibangun di Perempatan Jombor

Selasa, 24 November 2009 | 20:28 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Setelah di Janti dan Lempuyangan, Yogyakarta akan memiliki satu lagi jembatan layang yakni di Perempatan Jombor, paling cepat tahun 2011. Terowongan atau underpass di bawah jembatan layang tersebut, akan menjadi jalan underpass pertama di DIY.

"Awal Desember nanti, izin pembangunan jembatan layang dan terowongan tersebut, kami masukkan ke Menteri Keuangan," ujar Santoso, Asisten Perencanaan Satuan Kerja Nonvertical Tertentu Kantor Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan J embatan (P2JJ) DIY Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Selasa (24/11).

Paling tidak butuh enam bulan sebelum Menkeu memberis persetujuan, sehingga paling cepat pertengahan tahun 2010, proses lelang bagi kontraktor swasta baru akan dilakukan. Pihaknya memperkirakan anggaran pembangunan fisik yang dibiayai APBN akan mencapai sekitar Rp 83 miliar. Dana itu turun tidak sekaligus.

Tahun 2010, APBN akan mengucurkan dulu Rp 12 miliar. Adapun  dana Rp 83 miliar ini, juga baru perkiraan kasar, belum mencakup biaya nonfisik seperti pembebasan lahan sekitar 8.000 meter persegi. "Biaya pembebasan lahan paling kami khawatirkan karena bisa amat tinggi, sementara itu tidak dialokasikan di dalam APBN. Makanya kami sedang membahasnya dengan pemkab-pemkab di DIY," katanya.

Jembatan layang (flyover) di Jombor menghubungkan jalur dari timur ke barat (menyusur jalan lingkar), serta timur ke utara (jalan lingkar sisi timur ke Jalan Magelang). Sementara arus dari barat ke timur akan melalui underpass (jalan terowongan). Untuk arus dari utara-selatan (Jalan Magelang) dan sebaliknya, digunakan jalan datar seperti yang sekarang terlihat.

Persimpangan yang kami ajukan ke pusat untuk dibangun jembatan layang, ada dua, yakni Jombor dan perempatan Gejayan. Pertimbangannya, perempatan itu akan menuju padat kendaraan. Tapi yang disetujui pusat adalah perempatan Jombor, jelasnya.

Alasan mengapa Jombor yang dipilih, menurut Santoso, karena empat ruas jalan di Jombor berstatus jalan negara (nasional). Selain itu, pemerintah pusat juga menyelaraskan dengan rencana Pemkab Sleman yang akan mengembangkan Terminal Jombor.

Secara terpisah, Muslich Zainal Asikin, peneliti senior di Pusat Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM menganggap rencana pembangunan jembatan layang dan underpass di Jombor terburu-buru. Di Perempatan Jombor tak perlu ada itu.

"Semua warga Yogyakarta pun tahu Jombor bukan persimpangan padat. Jauh lebih padat persimpangan Gejayan dan UPN (Condong Catur) kan? Jika jembatan layang dan underpass dibangun di Perempatan Gejayan, itu malah masuk akal," kata Muslich.                 

 

 

 

 


Editor : ksp