JAMBI, KOMPAS.com - Hutan di seluruh wilayah Jambi setiap tahun terus mengalami kerusakan mencapai 24.000 hektar akibat pembalakan liar. Sampai kini, Jambi tetap menjadi daerah rawan pembalakan liar.
"Dari perubahan citra landsat terlihat ada pengurangan jumlah tutupan hutan sebesar 2 persen per tahun dari total luas 1,2 juta hektar hutan di Jambi," ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Didy Wurjanto, Selasa (24/11) di Jambi.
Itu berarti hutan Jambi mengalami penyusutan luas kurang lebih mencapai 24.000 hektar per tahun. Didy mengaku tidak mengetahui persis berapa meter kubik kayu dari total luas hutan Jambi yang dicuri para pembalak liar.
Menurut dia, pengurangan hutan di Jambi itu sebenarnya masuk kategori rendah. Akan tetapi, harus bisa dihentikan sebab berpotensi meluas dan akan merusak sumber daya alam. Ia mengakui sering kesulitan memberantas total pembalakan lair karena k eterbatasan sumber daya dimiliki. Ia mencontohkan, di tingkat provinsi Jambi hanya ada 92 orang anggota Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat. Padahal wilayah hutan yang harus diawasi sangat luas.
Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (walhi) Jambi dan Walhi se-Sumatera, serta beberapa organisasi nonpemerintah lain meminta gubernur-gubernur di Sumatera segera menyusun protokol keselamatan bagi pulau Sumatera. Ini karena kondisi sosial ekologis Sumatera dinilai terus memburuk dalam lima tahun terakhir.
"Deforestasi hutan-hutan dataran tinggi, perusakan kawasan gambut dan hutan bakau di pesisir timur rata-rata mencapai 800 ribu ha per tahun," ucap Direktur Eksekutif Walhi Jambi, Arif Munandar.
