METRO, KOMPAS.com - Para perajin mebel di Kota Metro Provinsi Lampung mulai tidak menggunakan bahan baku kayu jati, karena harganya yang mahal serta kurang diminati konsumen.
"Kalau kayu jati, sekarang susah lakunya, karena masyarakat juga tidak kuat membelinya sehingga konsumen saat ini lebih memilih produk kayu yang lebih murah seperti kayu rimba," kata seorang pengusaha mebel, Efendi (45), di Metro Barat, Kota Metro, Selasa.
Menurut dia, sebagian pelanggannya mulai beralih membeli produk yang berbahan baku selain kayu jati, karena harganya lebih terjangkau. "Jika dihitung-hitung, harga kayu jati lebih mahal. Meski kualitas kayu jati lebih baik, namun pembeli memilih kayu lain," katanya.
Adapun harga kayu jati bisa mencapai Rp16 juta perkubik sementara harga kayu rimba hanya Rp 4 juta per kubik. Dia mengaku menjual berbagai jenis kayu seperti rimba, nyatoh, ramin dan jati dalam bentuk gelondongan.
Seorang pemilik panglong kayu di kawasan Mulyojati Metro Selatan, Sutarto (40), mengatakan, pembelinya yang sebagian besar perajin setempat lebih memilih kayu yang kualitasnya lebih rendah supaya dapat menekan harga.
"Kalaupun ada yang beli, biasanya cuma untuk kusen, kalau untuk dibuat mebel sudah jarang sekali," katanya.
Ia menambahkan, kayu jati kualitas terbaik biasanya berasal dari Pulau Jawa, sedangkan kayu jati asal Lampung sendiri kualitasnya lebih rendah karena kayunya lebih basah sehingga mudah retak.
"Kualitas kayu jati yang terbaik di Provinsi Lampung sangat susah, maka kami memasoknya dari Jawa," katanya.
Sejumlah perajin mebel setempat mengaku kini meninggalkan bahan baku kayu jati, karena harganya yang sangat mahal, apalagi perlu dipasok dari luar Lampung.


