BANTUL, KOMPAS.com — Rencana pemerintah untuk mengurangi subsidi pupuk pada APBN 2010 disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. Pasalnya, pengurangan subsidi akan membuat harga pupuk kimia naik. Kenaikan itu justru akan memaksa petani beralih ke pupuk organik sehingga kerusakan lahan bisa dikurangi.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto, Senin (23/11), mengatakan, turunnya nilai subsidi pupuk akan membuat harga eceran pupuk ikut naik. Urea yang semula dijual seharga Rp 1.200 per kg kemungkinan naik menjadi 2.000 per kg.
"Kalau harga pupuk kimia sudah mahal, maka petani akan berpikir ulang untuk menggunakannya, apalagi dalam jumlah banyak. Dampaknya adalah penurunan tingkat penggunaan urea, yang selama ini cukup meresahkan," katanya.
Rata-rata penggunaan pupuk urea di Bantul mencapai 400 kg per hektar, sementara dosis yang dianjurkan hanya 250 kg per hektar. Dosis yang berlebihan tersebut telah merusak unsur hara dalam tanah sehingga struktur tanah pun rusak. Jika keadaannya seperti itu terus, maka nasib dunia pertanian ke depan akan semakin suram.
Menurut dia, kenaikan harga pupuk kimia akan memaksa mereka beralih ke pupuk organik yang harganya lebih murah. Selama ini, petani ngotot menggunakan pupuk kimia karena sifatnya lebih praktis dan efeknya lebih cepat. "Namun, bila didorong oleh kenaikan harga, saya yakin mereka akan mulai melirik pupuk organik," katanya.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bantul sudah memiliki pabrik pupuk organik petroganik berkapasitas 7,5 ton per hari. Selain itu, ada 40 kelompok pembuat pupuk organik yang eksis. Bila menggunakan petroganik, maka kebutuhannya berkisar 500 kg per hektar dengan tambahan urea 150 kg per hektar. Namun, bila menggunakan pupuk kandang langsung, maka kebutuhannya 2 ton per hektar.
Pada tahap awal proses peralihan pupuk, produksi pangan akan turun. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, produksi akan terus menanjak seiring dengan membaiknya struktur tanah.
Rencana pengurangan subsidi juga mengurangi alokasi pupuk untuk Kabupaten Bantul tahun 2010. Bila tahun ini jatah urea tercatat 18.211 ton, tahun depan berkurang menjadi 16.950 ton.
Suherman, petani di Bulak Mandingan, Bantul, mengaku sudah mulai menggunakan pupuk organik selama setahun terakhir. Ia merasa hatinya tergerak untuk menggunakan pupuk organik karena menerima banyak penjelasan dari petugas dinas pertanian.
"Dulu saya tidak mau pakai karena merepotkan. Saya harus mengangkut kotoran ternak ke sawah, tetapi sekarang sudah banyak pupuk organik kemasan yang dijual," katanya.


