
PALEMBANG, KOMPAS.com - Pemilihan Presiden Ikatan Dokter Indonesia dalam Muktamar Dokter Indonesia di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (21/11) malam, berlangsung kacau. Berbagai polemik hingga interupsi berulang kali terjadi.
Salah satu polemik yang meruncing adalah persoalan kelunasan iuran anggota. Ada kubu yang berkeyakinan hanya daerah yang telah melunasi iuran yang berhak memberi suara. Kubu lain bersikeras sebaliknya. Hujan interupsi terjadi hampir satu jam.
Akhirnya, pimpinan sidang memutuskan voting. Hasilnya, mayoritas peserta muktamar menghendaki agar daerah yang telah melunasi iuran saja yang berhak memberikan suara. Iuran setiap dokter anggota IDI adalah Rp 10.000 per bulan. Dibayarkan secara kolektif oleh cabang.
Dari 13 nama bakal calon, tiga di antaranya tidak hadir dan seorang hadir tapi menyatakan tak bersedia. Dengan demikian calon sah sebanyak sembilan kandidat.