BOJONEGORO, KOMPAS.com - Sudetan Sedayu Lawas di Kabupaten Lamongan, menuju ke laut Jawa di Tuban, Jawa Timur, yang panjangnya 13,2 kilometer, sudah berfungsi normal untuk mengalirkan debit banjir Bengawan Solo sebesar 640 meter kubik per detik.
"Sudetan Sedayu Lawas sudah berfungsi normal. Dalam musim kemarau 2009, sedimen yang menghambat aliran debit banjir sudah dikeruk dengan jumlah total 1,3 juta meter kubik," kata Kepala Balai Besar Bengawan Solo di Solo, Jawa Tengah, Graita Soetadi, Sabtu (21/11).
Proyek pengerukan sedimen yang berada di sudetan tersebut, biayanya mencapai Rp 23 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009. "Pengerukan dilakukan di tempat tertentu yang tingkat sedimennya tinggi," katanya menambahkan.
Dia menjelaskan, sejak rampung dibangun pada tahun 2001, Sudetan Sedayu Lawas menuju laut Jawa tersebut, mampu mengalirkan debit banjir sebesar 640 meter kubik per detik.
Sudetan tersebut, merupakan salah satu prasarana pengendalian banjir Bengawan Solo, di daerah hilir Jawa Timur, mulai Bojonegoro, Tuban dan Lamongan.
Debit banjir Bengawan Solo di daerah hilir yang terjadi rata-rata berkisar 3.000 meter kubik per detik, dipotong melalui sudetan dan dialirkan ke laut Jawa. Tanpa sudetan, genangan banjir di daerah hilir bisa berlangsung selama sepekan. "Karena ada sudetan, genangan banjir bisa dipercepat hanya sekitar tiga hari," katanya menjelaskan.
Menurut dia, kejadian banjir besar Bengawan Solo pada tahun 2008 yang melanda daerah hilir Jawa Timur, akibat sudetan kurang bisa berfungsi optimal. Sudetan mengalami penurunan kemampuan, akibat adanya sedimen.
Diperkirakan, ketika terjadi banjir besar itu, sudetan hanya mampu mengalirkan debit banjir Bengawan Solo berkisar antara 350 hingga 400 meter kubik per detik. "Pada waktu banjir 2008 lalu, air banjir di wilayah Bojonegoro dan Tuban, surutnya lama," katanya mengungkapkan.
Graita mengemukakan, setelah kejadian banjir besar pada tahun 2008, Gubernur Jawa Timur Soekarwo pernah mengusulkan kemampuan sudetan ditingkatkan menjadi 1.000 meter kubik per detik.
Usulan meningkatkan kemampuan sudetan sulit direalisasikan. Sebab, kalau sudetan kemampuannya ditingkatkan, bisa terjadi intrusi atau perembesan air laut.
Padahal, sesuai rencana keberadaan sudetan, selain berfungsi sebagai pengendali banjir Bengawan Solo, juga berfungsi sebagai persediaan air baku, baik untuk industri, pertanian, tambak dan rumah tangga di wilayah pantura dengan cara memanfaatkan tampungan memanjang di sudetan itu.


