MAUMERE, KOMPAS.com — Berangkat dari Maumere pukul 04.00 WITA pagi tadi, Sabtu (21/11), Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara berlayar menuju Adonara, Flores, menggunakan kapal Pinisi Cinta Laut. Perairan yang tenang dan cuaca cerah menjadikan perjalanan menyenangkan karena indahnya pemandangan.
Tim yang beranggotakan awak Pencinta Alam Wanadri, Komunitas Rumah Nusantara, wartawan Kompas Iwan Santosa, dan fotografer Lucky Pransiska diperkirakan tiba pukul 13.30 waktu setempat. "Cuacanya cerah dan lautnya tenang. Kami menyusuri pantai utara Flores Timur yang pemandangannya indah," kata Iwan Santosa dari Teluk Maumere.
Sebelum berangkat di pagi buta, tim ekspedisi dijamu makan malam oleh Komandan Pangkalan TNI AL Maumere Kolonel Wisnubroto tadi malam. Sebelumnya lagi, mereka sempat mengunjungi pusat kerajinan gading gajah dan melihat sekolah di pedalaman Maumere. Untuk sampai ke sekolah, tim harus berjalan kaki dalam teriknya matahari dan menyeberangi setidaknya empat bukit. "Terbayang betapa sulitnya anak-anak di sini mencapai sekolah. Mereka berjalan tanpa alas kaki di jalanan yang panas. Kaki saya saja saat ini masih bengkak, padahal memakai sepatu," tutur Iwan.
Mengenai gading gajah, tradisi menjadikan benda itu sebagai mahar ternyata sudah ada sejak tahun 1600-an awal. Uniknya, di Flores tidak ada gajah. Lalu dari mana asal tradisi itu? Awalnya, gading-gading gajah dibawa oleh orang-orang Portugis dari Malaka. Penduduk yang kemudian mengenalnya sebagai barang berharga lalu menjadikannya sebagai mas kawin.
Saat ini tradisi menjadikan gading sebagai mahar masih berlangsung. Gading-gading didatangkan dari Tabah, Malaysia. Menurut penuturan seorang perajin, gading itu tidak diambil dari gajah yang dibunuh, tetapi dari gajah yang mati alamiah. Mereka kemudian membentuknya menjadi kalung, manik-manik rosario, dan gelang mahar. Beberapa lainnya dijadikan tongkat komando lalu dikirim ke Jakarta.