Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 13:56 WIB
Jauhkan Kera dari Anjing Liar
IGN sawabi | Abi | Jumat, 20 November 2009 | 10:55 WIB
|
Share:

Istimewa

DENPASAR, KOMPAS.com — Pengelola obyek wisata di Bali yang memiliki koleksi kera harus menghindarkan hewan itu dari ancaman penyakit rabies, antara lain dengan mencegah masuknya anjing liar ke kawasan tersebut, kata kepala dinas peternakan setempat.
    
"Hal itu dimaksudkan jangan sampai kera itu tertular rabies," kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali Ida Bagus Alit di Denpasar, Jumat (20/11).
    
Ia mengatakan, pihaknya mengharapkan semua desa adat di Bali, termasuk yang mengelola obyek wisata kera, untuk berperan secara aktif mencegah penularan rabies.
    
Menurut Ida Bagus Alit, para pengelola obyek wisata menyekat kawasan wisata agar ratusan kera di alam bebas itu tidak lagi menyatu dengan lingkungan sekitarnya. "Hal itu dilakukan mengingat kera juga bisa tertular rabies," kata dia meskipun persentasenya tidak lebih dari 5 persen. Untuk itu, antisipasi dan kesiapsiagaan perlu dilakukan sejak dini.
    
Sejumlah obyek wisata di Bali memiliki koleksi kera, seperti Sangeh, Pura Uluwatu, Alas Kedaton, Bedugul, Perkampungan Seniman Ubud, dan Pulaki. Selain kera, kata dia, kucing bisa tertular rabies yang persentasenya juga kecil. Penularan rabies hampir 90 persen terjadi pada anjing.
    
Meskipun demikian, kata dia, kera yang menjadi koleksi sejumlah obyek wisata di Bali sangat rentan terhadap penularan virus rabies.
    
"Melalui pengawasan yang ketat oleh petugas di masing-masing obyek wisata, diharapkan anjing tidak sampai bersentuhan atau berkelahi dengan kera," kata Ida Bagus Alit.
    
Budi Prasetyo dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar mengharapkan agar kera-kera yang menghuni obyek wisata di Bali lebih mendapat perhatian agar terhindar dari penularan rabies.
    
"Jika kera sampai tertular rabies,  akan menjadi semakin rumit untuk mengatasinya," kata Budi Prasetyo.

Sumber :
ANT