KOMPAS.com - Jika ditanya, apa yang paling susah dilakukan orang zaman sekarang yang begitu sibuk beraktivitas, salah satu jawabannya pasti bersepeda. Jalanan yang tidak bersahabat dengan sepeda dan malas berkeringat, adalah dua jawaban di deretan teratas.
Menarik minat orang bersepeda, walau itu di Yogya yang adalah kantong sepeda, bukan gampang-gampang susah, tapi susah-susah gampang. Maksudnya adalah, sepeda ditempatkan sebagai pilihan moda transportasi jarak dekat, dan orang bisa mencintainya.
Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) adalah salah satu komunitas pengendara sepeda yang coba melakukan itu. Mereka aktif mengisi berbagai acara, mulai dari membuka pameran, memperingati hari besar kenegaraan, nongkrong, hingga ikut festival.
Berbagai acara seni juga tak luput disentuh. Seperti Kamis (19/11) malam kemarin, di Lapangan Jodog, Banguntapan, Bantul, Podjok menggelar Ketoprak Tobong, kesenian tradisi yang kini sulit dijumpai. Acara tersebut, bertepatan dengan HUT ke-3 Podjok.
Hari itu, Podjok genap berumur tiga tahun, usia yang sebenarnya masih muda. Namun sepak terjang Podjok menggiatkan kembali bersepeda, patutlah diapresiasi. Jika sekarang banyak sepeda bertebaran di jalan, sedikit banyak itu jasa Podjok.
"Kami memang komunitas onthel (sepeda lawas), tapi ajakan bersepeda dari kami tak hanya menggenjot onthel tapi semua jenis sepeda. Yang penting, bersepedalah. Berkeringatlah. Bersepeda itu menyenangkan," ujar Towil, Ketua Podjok.
Towil mengaku gembira karena Yogya mulai marak dengan sepeda, lima tahun terakhir. Namun jangan sampai itu hanya semata tren yang di masa mendatang akan hilang. Jangan sampai sepeda lenyap dari jalanan dan Yogya dikuasi oleh kuda-kuda besi.
Tentu saja, lanjut Towil, ajakan bersepeda tidak populer. Kala menggenjot pedal, jelas badan berkeringat, sementara tipikal orang zaman sekarang agak tidak mau berkeringat. Apalagi bersepeda siang hari, siapa yang mau? Paling banter, orang mengayuh sepeda hanya sebatas sejenak menggenjot.
Jika di awal berdiri, Podjok beranggotakan 150 orang, maka kini sudah 600 orang. Anggotanya beragam, dari pegawai negeri sipil (PNS), karyawan swasta, mahasiswa, hingga seniman. Kala mengikuti festival atau sepeda santai, mereka dikenal dari ciri kostum yang jadul (jaman dulu) abis, seperti baju lurik dan topi demang. Dan tentu saja, barisan sepeda-sepeda tua nan eksotik.
Onthel-onthel bikinan tahun 1960 tahun ke bawah itu, sangat mereka banggakan. "Kami, kebetulan memang suka dengan sepeda-sepeda Eropa zaman dulu, karena nyaman, desainnya unik, dan kuat. Tapi jangan salah, mereka yang nggak punya sepeda, asal mencintai sepeda, bisa kok gabung dengan Podjok. Nanti kalau ada festival, mereka kan bisa pinjam sepeda," paparnya.
Onthel iku Migunani Kangge Sedaya (bersepeda itu bermanfaat bagi semua), yang adalah semboyan Podjok, memang tak salah. Namun mengajak orang tertarik bersepeda, bukan hal gampang. Karena itulah, Podjok giat menggelar acara. Khusus tentang onthel, Towil sedang memikirkan cara agar pameran sepeda tak hanya digelar di tempat rutin seperti Yogya, Solo, Semarang, Jakarta, dan Surabaya.
Bagi masyarakat, bersepeda memang aktivitas yang susah dijalankan. Seperti dikatakan Tanto (34), karyawan swasta, mencari waktu bersepeda terasa sulit. Ingin bersepeda pun harus pagi-pagi buta. Siang sedikit, jalanan sudah ramai. Akhirnya, sepeda ya hanya teronggok di garasi. "Memakainya paling sebulan sekali," kata Tanto.
Bersepeda, menurut Towil, adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Bersepeda menunjukkan seberapa kuat manusia mengukur diri sendiri. Jika jalan turun, sepeda meluncur. Jika jalan mendaki, harus dituntun. Seperti hidup, naik dan turun, begitulah sepeda. (Lukas Adi Prasetya)
